“Membaca alkitab itu membosankan, bahasanya rumit dan sukar
dimengerti”. Begitulah curhatan beberapa
teman tentang pengalaman mereka membaca alkitab. Harus saya akui, membaca alkitab
memang tidak mudah. Butuh kemauan/niat, pengorbanan, daya juang, dan
keterbukaan hati. Tapi jika anda mengakui diri sebagai pengikut Yesus, harusnya
akrab dengan alkitab dong? Paling tidak, Injil (Mat, Mrk, Luk, Yoh). Parahnya,
beberapa umat ada yang tidak tahu apa bedanya injil dengan kitab-kitab lain.
Pernah suatu hari saya mengajar agama di suatu desa, lalu saya meminta mereka
membuka injil Matius. Herannya, ada yang mencari Injil Matius di bagian
perjanjian lama. Pengalaman ini membuktikan bahwa masih banyak orang Kristiani
yang belum akrab dengan Alkitab. Padahal, alkitab merupakan jalan bagi kita
untuk semakin mengenal Tuhan.
Kalau di KTP, kita tertulis beragama katolik/kristen, kita
juga mengaku sebagai pengikut Yesus dan warga gereja, tapi faktanya tidak akrab
dan tidak pernah/jarang membaca alkitab, itu namanya ikut-ikutan. Mengikuti sesuatu,
tapi tidak mengenal apa yang diikuti. Nah, maukah anda menjadi orang
Kristen/Katolik yang tidak sekedar ikut-ikutan? Bacalah alkitab! Dengan baca
alkitab, anda tidak hanya sekedar semakin mengenal Tuhan. Siapa tau, anda juga dapat
disentuh, dibimbing, diperbaharui, dididik, hingga dijumpai oleh Tuhan sendiri.
Kebanyakan orang membaca alkitab seperti membaca buku pada
umumnya. Ada pula kelompok baca kitab suci, yang mentargetkan anggotanya untuk membaca
beberapa pasal dari kitab suci setiap hari. Cara ini baik.. Tapi, jika membaca
alkitab dengan cara ini, yang didapatkan mungkin hanya sekedar menunaikan
kewajiban, hiburan, atau hanya sekedar kebanggan “gue udah baca seluruh alkitab”.
Tapi jika ditanya apa yang mengesan, Tuhan bicara apa, orang ini tidak banyak
tau. Sekali lagi, cara ini baik dan tidak salah. Tapi, baca alkitab itu bukan
soal kejar target dan banyaknya bahan
yang dibaca, melainkan seberapa dalam
saya merenungkan suatu perikop, ayat, atau kisah tertentu. Bukan kuantitas, tapi kualitasnya. Nah, saya ingin
menawarkan kepada anda cara membaca alkitab yang tidak membosankan, mendalam, berkualitas,
berdaya-ubah dan pastinya menarik.
Cara pertama :
Dengan
membayangkan, berimajinasi, berkontemplasi.
Apa
maksudnya dan bagaimana caranya?
Pernahkah anda dicurhati seorang teman? Misalnya dia baru
diputusin pacarnya. Atau dia baru mengadakan perjalanan yang menarik, naik gunung
misalnya. Otomatis, kita akan ikut mengalami cerita itu. Sedih dan sakitnya
diputusin pacar. Atau ikut membayangkan perjalanan yang ditempuh, indahnya
alam, orang-orang yang dijumpai. Kita seperti mengalami langsung peristiwa itu.
Karena itu, kita dapat ikut bergembira atau bersedih, seperti yang Ia alami.
Atau pernahkah anda membaca novel? Membaca novel pastinya
akan memainkan imajinasi dan mengaduk-aduk perasaan kita. Begitu juga ketika
kita menonton film. Tak jarang, orang akan menangis ketika menonton film atau
membaca novel tertentu. Artinya, kita ikut mengalami cerita tersebut. Nah,
membaca alkitab pun bisa dilakukan dengan cara ini.
Caranya :
1.
Pilih dan bacalah satu perikop yang menarik bagi
anda. Misal : Kelahiran Yesus (Luk 2:1-14)
2.
Setelah membacanya, ambillah waktu
beberapa menit, mungkin 10-15 menit. Bisa juga diperpanjang sesuai dengan
kemauan dan situasi anda.
3.
Pejamkan mata dan putar ulang
kisah tersebut dalam imajinasi anda. Kita tidak perlu merasa bersalah dan
betul, biarkan anda berimajinasi sesuai dengan kehendak anda. Jika yang muncul
dalam imajinasi anda berbeda dengan yang tertulis di teks alkitab, biarkanlah
itu terjadi secara alamiah dan tidak perlu merasa bersalah. Apa saja yang perlu
diimajinasikan?
4.
Pertama, imajinasikanlah latar tempat terjadinya peristiwa.
Misal : membayangkan bagaimana perjalanan dari Nazareth ke Bethlehem, apakah
jalannya datar, melintasi lembah, bukit? Bagaimana cuacanya? Membayangkan
bagaimana tempat kandang Yesus dilahirkan, besar atau kecil, posisinya
bagaimana, dst.
5.
Kedua, imajinasikanlah tokoh-tokoh dalam
cerita, dan ambillah peran tertentu
seperti ketika anda bermain teater. Anda bisa membayangkan diri sebagai Maria,
Yusuf, atau bisa juga menghadirkan diri anda sendiri disana. Saya menyarankan
anda mengambil peran sebagai diri anda sendiri. Anda bebas mau melakukan apa
dan berperan sebagai apa. Misal : menjadi baby
sitter Keluarga Kudus dengan melayani kebutuhan mereka, membantu Maria
melahirkan Yesus, memandikan Yesus dan menggendongnya, dst.
6.
Biarlah cerita berjalan alami,
biarkan fantasi dan imajinasi anda bekerja dengan leluasa.
7.
Cermatilah perasaan yang muncul :
terharu, gembira, kagum, dll. Cermati juga pemahaman/hal baru apa yang
kudapatkan.
8.
Tutup dengan doa spontan sesuai
dengan perasaan yang muncul.
Dengan membayangkan seperti ini, kita bisa mendapatkan
banyak hal. Seperti merasakan perjalanan dan susah payah keluarga kudus, betapa
Yesus memilih untuk dilahirkan dalam kemiskinan yang memuncak dan penuh derita.
Dan pemahaman lainnya... Mungkin kita juga akan banyak bertanya. Untuk apa
Yesus lahir di kandang? Mengapa ini, dan mengapa itu? Disitulah kita dapat
mencoba untuk memahami menurut pandanganku, apa makna peristiwa di kitab suci.
Setelahnya, tentu kita bisa mencari jawabannya entah di buku tafsir, internet,
bertanya ke guru/pastor. Dengan kontemplasi, pengetahuan iman kita pun otomatis
bertambah.
Kita juga bisa mencermati bagaimana peran diriku dalam kontemplasi.
Misalnya : Aku sulit sekali membayangkan tokoh Yosef. Aku lebih dekat dengan
Bunda Maria dan nyaman didekatnya. Di situ kita bisa bertanya, mengapa aku
sulit membayangkan Yosef dan lebih dekat dengan Maria? Data ini bisa
menunjukkan sesuatu. Misalnya : di dalam hidupku, ternyata aku lebih dekat dan
nyaman berelasi dengan ibuku. Ayah jarang dirumah dan aku tidak dekat
dengannya. Itulah yang membuatku sulit membayangkan Yosef dan lebih dekat
dengan Maria. Dengan cara membaca kitab suci seperti ini, kita tidak sekedar
semakin mengenal Allah, tapi juga semakin mengenal
diri sendiri. Dalam imajinasi, alam bawah sadar kita bekerja. Siapa tau, alam
bawah sadar kita ingin memberi tahu suatu hal yang berharga lewat kontemplasi
kita.
Dengan kontemplasi, kita tidak
sekedar membaca alkitab, tapi juga berdoa. Lewat kontemplasi, kita
berjumpa dengan Allah lewat cerita dan imajinasi kita. Allah pun sangat mungkin
bekerja melalui perasaan, pemahaman, dan peran tertentu yang kita imajinasikan.
Dengan ini, kita menjadikan kisah dalam alkitab tak hanya milik para nabi atau
Yesus, tapi juga milik kita sendiri.
Cara ini bisa kita gunakan untuk merenungkan atau membaca
teks kitab suci yang berupa cerita.
Tapi tak semua isi alkitab berupa cerita. Ada banyak perikop yang berupa
ajaran, puisi, syair, nasihat, dan surat. Seperti Mazmur, Amsal, surat-surat
Paulus, sabda Bahagia, kotbah Yesus, dll. Untuk itu, ada cara kedua membaca
kitab suci.
CARA KEDUA :
Dengan
merasakan, mengunyah kata-kata, membatinkan, mengkonsiderasikan dan
memeditasikan. Apa maksudnya dan bagaimana caranya?
Saat
sekolah, kita mempelajari banyak rumus. Seperti rumus matematika, fisika,
kimia, dst. Tak semua rumus bisa langsung kita pahami. Kadang, butuh waktu lama
untuk memahaminya. Kenapa kok begini dan harus pakai yang ini? Nah, disitulah
kita sedang melakukan meditasi. Kita memikirkan, mencoba menafsir, membatinkan
rumus tersebut hingga akhirnya kita dapat memahaminya dan menggunakan rumus
tersebut untuk memecahkan suatu persoalan.
Atau
pernahkah anda dinasihati oleh orang tua anda, dan anda menjadi marah? Nah,
disitulah anda sedang merenungkan nasihat orang tua anda. Timbullah reaksi
berupa rasa marah, tidak setuju, dst. mungkin karena saat itu anda belum
mengertinya. Barulah beberapa tahun kemudian, biasanya anda memahami kebenaran
nasihat orang tua anda tersebut. Itulah meditasi – konsiderasi.
Begitu
juga dengan membaca kitab suci. Kadang, kita tidak mengerti apa yang disabdakan
kitab suci. Atau mungkin kita pernah merasa tersindir oleh suatu ayat kitab
suci. Dengan merenungkan suatu ayat atau perikop tertentu yang mengesan,
menyindir atau yang tidak kumengerti, siapa tau ayat atau perikop tersebut
ingin berbicara sesuatu untuk hidup anda. Kita perlu hening dan merenungkan apa
makna suatu teks kitab suci untuk dunia zaman now dan untuk hidup kita saat ini.
Caranya
Pilih ayat, kalimat, atau perikop tertentu yang ingin anda renungkan.
2.
Bacalah pelan-pelan, atau bisa
juga sambil diucapkan
3.
Bila ada perasaan tertarik atau
tersindir akan suatu ayat atau kalimat, berhentilah di situ. Bacalah ulang,
rasakan, cerna, batinkan, dan tanyalah, mengapa aku tertarik dengan ayat ini?
Ayat ini ingin berbicara apa dalam hidupku?
4.
Tutup dengan doa spontan sesuai
dengan perasaan yang muncul.
Inilah
dua cara membaca kitab suci yang ingin saya tawarkan kepada anda. Seperti yang
sudah saya katakan diawal, membaca kitab suci butuh kemauan, pengorbanan, daya
juang, dan keterbukaan hati. Kita harus menyediakan waktu khusus dan penuh minat
untuk membaca dan merenungkan kitab suci. Dengan itu, kita tidak hanya membaca,
tapi mendoakannya. Untuk memperoleh manfaat yang lebih optimal, saya
menyarankan beberapa hal :
Saran
:
1.
Sisihkanlah waktu sebelum misa/ibadah untuk merenungkan bacaan hari
itu. Jangan salahkan pemimpin ibadat jika setelah ibadah anda tidak mendapatkan
apa-apa, misal karena kotbahnya tidak anda mengerti. Salahkanlah diri anda yang
tidak mempersiapkan diri mendengar sabda Tuhan dengan membaca dan
merenungkannya. Tanyalah, Tuhan mau berbicara apa padaku lewat sabda hari
ini? Kotbah hanyalah sarana untuk
membantu umat memahami sabda Tuhan. “Berbahagialah
orang yang mendengarkan sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya ; SabdaMu adalah
jalan, kebenaran, dan hidup kami”
2.
Buatlah jadwal khusus membaca dan mendoakan kitab suci. Misalnya : hari minggu pagi, atau setiap hari sebelum mandi, sesuai
dengan situasi dan kondisi anda masing-masing. Dengan ini, anda akan menjadi
orang kristiani yang baik, dewasa dalam iman, dan pastinya hidup anda akan
selalu dituntun oleh firman Tuhan yang menjadikan anda berkat.
3.
Jika anda mau untuk semakin bertumbuh dalam iman, bacalah kitab suci
setiap hari. Sebaiknya di pagi hari, sisihkan sedikit
waktu untuk merenungkan sabda Tuhan. Gereja Katolik telah menyusun bacaan harian
setiap hari dalam kalender liturgi. Anda bisa menggunakannya, supaya setiap
hari, hidup anda dipenuhi dengan firman Allah.
5.
Setelah membaca kitab suci, berdoalah secara spontan. Ungkapkan perasaan anda pada Tuhan, mohonlah rahmat yang anda kehendaki dan
buatlah niat konkret apa yang ingin
kulakukan dan kuperjuangkan.
6.
Milikilah Alkitab pribadi yang bisa anda
stabilo atau corat-coret.
7.
Sediakanlah buku catatan untuk mencatat
perasaan, buah-buah, pemahaman, makna, niat konkret, rahmat dan pengalaman perjumpaan
dengan Allah yang anda alami setiap kali mendoakan kitab suci. Catatan ini pasti
akan menjadi data yang berharga.
Artikel ini tidak akan berguna jika hanya dibaca. Anda harus melakukannya. Begitu juga dengan alkitab. Tidak akan berguna jika anda hanya membeli, menyimpannya di rak atau hanya sekedar mendownloadnya di smartphone anda. Anda harus membaca, mendoakan, dan melaksanakannya. Dengan itu, Alkitab akan membuat hidup anda terus diperbaharui oleh firman. Semoga dengan cara-cara ini, kita dapat semakin akrab dengan kitab suci, dan dengan itu juga semakin akrab dalam menjalin relasi persahabatan bersama Allah Bapa, putraNya Yesus Kristus dalam bimbingan oleh Roh Kudus.
Sebagaimana sabda
telah menjadi daging dalam Yesus Kristus, semoga sabda itu juga menjadi daging
dalam diri kita. Tuhan memberkati.
Sumber : Darminta. J.
(penerj.) Latihan Rohani St. Ignasius Loyola. Yogyakarta : Kanisius. 1993
Nicholas Dennis Kurnia











