Jumat, 01 Januari 2021

CARA MENARIK MEMBACA ALKITAB

“Membaca alkitab itu membosankan, bahasanya rumit dan sukar dimengerti”. Begitulah curhatan beberapa teman tentang pengalaman mereka membaca alkitab. Harus saya akui, membaca alkitab memang tidak mudah. Butuh kemauan/niat, pengorbanan, daya juang, dan keterbukaan hati. Tapi jika anda mengakui diri sebagai pengikut Yesus, harusnya akrab dengan alkitab dong? Paling tidak, Injil (Mat, Mrk, Luk, Yoh). Parahnya, beberapa umat ada yang tidak tahu apa bedanya injil dengan kitab-kitab lain. Pernah suatu hari saya mengajar agama di suatu desa, lalu saya meminta mereka membuka injil Matius. Herannya, ada yang mencari Injil Matius di bagian perjanjian lama. Pengalaman ini membuktikan bahwa masih banyak orang Kristiani yang belum akrab dengan Alkitab. Padahal, alkitab merupakan jalan bagi kita untuk semakin mengenal Tuhan.

Kalau di KTP, kita tertulis beragama katolik/kristen, kita juga mengaku sebagai pengikut Yesus dan warga gereja, tapi faktanya tidak akrab dan tidak pernah/jarang membaca alkitab, itu namanya ikut-ikutan. Mengikuti sesuatu, tapi tidak mengenal apa yang diikuti. Nah, maukah anda menjadi orang Kristen/Katolik yang tidak sekedar ikut-ikutan? Bacalah alkitab! Dengan baca alkitab, anda tidak hanya sekedar semakin mengenal Tuhan. Siapa tau, anda juga dapat disentuh, dibimbing, diperbaharui, dididik, hingga dijumpai oleh Tuhan sendiri.

Kebanyakan orang membaca alkitab seperti membaca buku pada umumnya. Ada pula kelompok baca kitab suci, yang mentargetkan anggotanya untuk membaca beberapa pasal dari kitab suci setiap hari. Cara ini baik.. Tapi, jika membaca alkitab dengan cara ini, yang didapatkan mungkin hanya sekedar menunaikan kewajiban, hiburan, atau hanya sekedar kebanggan “gue udah baca seluruh alkitab”. Tapi jika ditanya apa yang mengesan, Tuhan bicara apa, orang ini tidak banyak tau. Sekali lagi, cara ini baik dan tidak salah. Tapi, baca alkitab itu bukan soal kejar target dan banyaknya bahan yang dibaca, melainkan seberapa dalam saya merenungkan suatu perikop, ayat, atau kisah tertentu. Bukan kuantitas, tapi kualitasnya. Nah, saya ingin menawarkan kepada anda cara membaca alkitab yang tidak membosankan, mendalam, berkualitas, berdaya-ubah dan pastinya menarik.

Cara pertama :

Dengan membayangkan, berimajinasi, berkontemplasi.

Apa maksudnya dan bagaimana caranya?

Pernahkah anda dicurhati seorang teman? Misalnya dia baru diputusin pacarnya. Atau dia baru mengadakan perjalanan yang menarik, naik gunung misalnya. Otomatis, kita akan ikut mengalami cerita itu. Sedih dan sakitnya diputusin pacar. Atau ikut membayangkan perjalanan yang ditempuh, indahnya alam, orang-orang yang dijumpai. Kita seperti mengalami langsung peristiwa itu. Karena itu, kita dapat ikut bergembira atau bersedih, seperti yang Ia alami.  

Atau pernahkah anda membaca novel? Membaca novel pastinya akan memainkan imajinasi dan mengaduk-aduk perasaan kita. Begitu juga ketika kita menonton film. Tak jarang, orang akan menangis ketika menonton film atau membaca novel tertentu. Artinya, kita ikut mengalami cerita tersebut. Nah, membaca alkitab pun bisa dilakukan dengan cara ini.

Caranya :

1.       Pilih dan bacalah satu perikop yang menarik bagi anda. Misal : Kelahiran Yesus (Luk 2:1-14)

2.       Setelah membacanya, ambillah waktu beberapa menit, mungkin 10-15 menit. Bisa juga diperpanjang sesuai dengan kemauan dan situasi anda.

3.       Pejamkan mata dan putar ulang kisah tersebut dalam imajinasi anda. Kita tidak perlu merasa bersalah dan betul, biarkan anda berimajinasi sesuai dengan kehendak anda. Jika yang muncul dalam imajinasi anda berbeda dengan yang tertulis di teks alkitab, biarkanlah itu terjadi secara alamiah dan tidak perlu merasa bersalah. Apa saja yang perlu diimajinasikan?

4.       Pertama, imajinasikanlah latar tempat terjadinya peristiwa. Misal : membayangkan bagaimana perjalanan dari Nazareth ke Bethlehem, apakah jalannya datar, melintasi lembah, bukit? Bagaimana cuacanya? Membayangkan bagaimana tempat kandang Yesus dilahirkan, besar atau kecil, posisinya bagaimana, dst.

5.        Kedua, imajinasikanlah tokoh-tokoh dalam cerita, dan ambillah peran tertentu seperti ketika anda bermain teater. Anda bisa membayangkan diri sebagai Maria, Yusuf, atau bisa juga menghadirkan diri anda sendiri disana. Saya menyarankan anda mengambil peran sebagai diri anda sendiri. Anda bebas mau melakukan apa dan berperan sebagai apa. Misal : menjadi baby sitter Keluarga Kudus dengan melayani kebutuhan mereka, membantu Maria melahirkan Yesus, memandikan Yesus dan menggendongnya, dst.

6.       Biarlah cerita berjalan alami, biarkan fantasi dan imajinasi anda bekerja dengan leluasa.

7.       Cermatilah perasaan yang muncul : terharu, gembira, kagum, dll. Cermati juga pemahaman/hal baru apa yang kudapatkan.

8.       Tutup dengan doa spontan sesuai dengan perasaan yang muncul.

Dengan membayangkan seperti ini, kita bisa mendapatkan banyak hal. Seperti merasakan perjalanan dan susah payah keluarga kudus, betapa Yesus memilih untuk dilahirkan dalam kemiskinan yang memuncak dan penuh derita. Dan pemahaman lainnya... Mungkin kita juga akan banyak bertanya. Untuk apa Yesus lahir di kandang? Mengapa ini, dan mengapa itu? Disitulah kita dapat mencoba untuk memahami menurut pandanganku, apa makna peristiwa di kitab suci. Setelahnya, tentu kita bisa mencari jawabannya entah di buku tafsir, internet, bertanya ke guru/pastor. Dengan kontemplasi, pengetahuan iman kita pun otomatis bertambah.

Kita juga bisa mencermati bagaimana peran diriku dalam kontemplasi. Misalnya : Aku sulit sekali membayangkan tokoh Yosef. Aku lebih dekat dengan Bunda Maria dan nyaman didekatnya. Di situ kita bisa bertanya, mengapa aku sulit membayangkan Yosef dan lebih dekat dengan Maria? Data ini bisa menunjukkan sesuatu. Misalnya : di dalam hidupku, ternyata aku lebih dekat dan nyaman berelasi dengan ibuku. Ayah jarang dirumah dan aku tidak dekat dengannya. Itulah yang membuatku sulit membayangkan Yosef dan lebih dekat dengan Maria. Dengan cara membaca kitab suci seperti ini, kita tidak sekedar semakin mengenal Allah, tapi juga semakin mengenal diri sendiri. Dalam imajinasi, alam bawah sadar kita bekerja. Siapa tau, alam bawah sadar kita ingin memberi tahu suatu hal yang berharga lewat kontemplasi kita.

                Dengan kontemplasi, kita tidak sekedar membaca alkitab, tapi juga berdoa. Lewat kontemplasi, kita berjumpa dengan Allah lewat cerita dan imajinasi kita. Allah pun sangat mungkin bekerja melalui perasaan, pemahaman, dan peran tertentu yang kita imajinasikan. Dengan ini, kita menjadikan kisah dalam alkitab tak hanya milik para nabi atau Yesus, tapi juga milik kita sendiri.

Cara ini bisa kita gunakan untuk merenungkan atau membaca teks kitab suci yang berupa cerita. Tapi tak semua isi alkitab berupa cerita. Ada banyak perikop yang berupa ajaran, puisi, syair, nasihat, dan surat. Seperti Mazmur, Amsal, surat-surat Paulus, sabda Bahagia, kotbah Yesus, dll. Untuk itu, ada cara kedua membaca kitab suci.

CARA KEDUA :

Dengan merasakan, mengunyah kata-kata, membatinkan, mengkonsiderasikan dan memeditasikan. Apa maksudnya dan bagaimana caranya?

Saat sekolah, kita mempelajari banyak rumus. Seperti rumus matematika, fisika, kimia, dst. Tak semua rumus bisa langsung kita pahami. Kadang, butuh waktu lama untuk memahaminya. Kenapa kok begini dan harus pakai yang ini? Nah, disitulah kita sedang melakukan meditasi. Kita memikirkan, mencoba menafsir, membatinkan rumus tersebut hingga akhirnya kita dapat memahaminya dan menggunakan rumus tersebut untuk memecahkan suatu persoalan.

Atau pernahkah anda dinasihati oleh orang tua anda, dan anda menjadi marah? Nah, disitulah anda sedang merenungkan nasihat orang tua anda. Timbullah reaksi berupa rasa marah, tidak setuju, dst. mungkin karena saat itu anda belum mengertinya. Barulah beberapa tahun kemudian, biasanya anda memahami kebenaran nasihat orang tua anda tersebut. Itulah meditasi – konsiderasi.

Begitu juga dengan membaca kitab suci. Kadang, kita tidak mengerti apa yang disabdakan kitab suci. Atau mungkin kita pernah merasa tersindir oleh suatu ayat kitab suci. Dengan merenungkan suatu ayat atau perikop tertentu yang mengesan, menyindir atau yang tidak kumengerti, siapa tau ayat atau perikop tersebut ingin berbicara sesuatu untuk hidup anda. Kita perlu hening dan merenungkan apa makna suatu teks kitab suci untuk dunia zaman now dan untuk hidup kita saat ini.

Caranya 

 Pilih ayat, kalimat, atau perikop tertentu yang ingin anda renungkan.

2.       Bacalah pelan-pelan, atau bisa juga sambil diucapkan

3.       Bila ada perasaan tertarik atau tersindir akan suatu ayat atau kalimat, berhentilah di situ. Bacalah ulang, rasakan, cerna, batinkan, dan tanyalah, mengapa aku tertarik dengan ayat ini? Ayat ini ingin berbicara apa dalam hidupku?

4.       Tutup dengan doa spontan sesuai dengan perasaan yang muncul.

Inilah dua cara membaca kitab suci yang ingin saya tawarkan kepada anda. Seperti yang sudah saya katakan diawal, membaca kitab suci butuh kemauan, pengorbanan, daya juang, dan keterbukaan hati. Kita harus menyediakan waktu khusus dan penuh minat untuk membaca dan merenungkan kitab suci. Dengan itu, kita tidak hanya membaca, tapi mendoakannya. Untuk memperoleh manfaat yang lebih optimal, saya menyarankan beberapa hal :

Saran :

1.       Sisihkanlah waktu sebelum misa/ibadah untuk merenungkan bacaan hari itu. Jangan salahkan pemimpin ibadat  jika setelah ibadah anda tidak mendapatkan apa-apa, misal karena kotbahnya tidak anda mengerti. Salahkanlah diri anda yang tidak mempersiapkan diri mendengar sabda Tuhan dengan membaca dan merenungkannya. Tanyalah, Tuhan mau berbicara apa padaku lewat sabda hari ini?  Kotbah hanyalah sarana untuk membantu umat memahami sabda Tuhan. “Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya ; SabdaMu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami”

2.       Buatlah jadwal khusus membaca dan mendoakan kitab suci. Misalnya : hari minggu pagi, atau setiap hari sebelum mandi, sesuai dengan situasi dan kondisi anda masing-masing. Dengan ini, anda akan menjadi orang kristiani yang baik, dewasa dalam iman, dan pastinya hidup anda akan selalu dituntun oleh firman Tuhan yang menjadikan anda berkat.

3.       Jika anda mau untuk semakin bertumbuh dalam iman, bacalah kitab suci setiap hari. Sebaiknya di pagi hari, sisihkan sedikit waktu untuk merenungkan sabda Tuhan. Gereja Katolik telah menyusun bacaan harian setiap hari dalam kalender liturgi. Anda bisa menggunakannya, supaya setiap hari, hidup anda dipenuhi dengan firman Allah.

5.       Setelah membaca kitab suci, berdoalah secara spontan. Ungkapkan perasaan anda pada Tuhan, mohonlah rahmat yang anda kehendaki dan buatlah niat konkret apa yang ingin kulakukan dan kuperjuangkan.

6.       Milikilah Alkitab pribadi yang bisa anda stabilo atau corat-coret.

7.       Sediakanlah buku catatan untuk mencatat perasaan, buah-buah, pemahaman, makna, niat konkret, rahmat dan pengalaman perjumpaan dengan Allah yang anda alami setiap kali mendoakan kitab suci. Catatan ini pasti akan menjadi data yang berharga.

Artikel ini tidak akan berguna jika hanya dibaca. Anda harus melakukannya. Begitu juga dengan alkitab. Tidak akan berguna jika anda hanya membeli, menyimpannya di rak atau hanya sekedar  mendownloadnya di smartphone anda. Anda harus membaca, mendoakan, dan melaksanakannya. Dengan itu, Alkitab akan membuat hidup anda terus diperbaharui oleh firman. Semoga dengan cara-cara ini, kita dapat semakin akrab dengan kitab suci, dan dengan itu juga semakin akrab dalam menjalin relasi persahabatan bersama Allah Bapa, putraNya Yesus Kristus dalam bimbingan oleh Roh Kudus.

Sebagaimana sabda telah menjadi daging dalam Yesus Kristus, semoga sabda itu juga menjadi daging dalam diri kita. Tuhan memberkati.

Sumber : Darminta. J. (penerj.) Latihan Rohani St. Ignasius Loyola. Yogyakarta : Kanisius. 1993

Nicholas Dennis Kurnia 

Apa Tujuan Kita Diciptakan?

Tahun ajaran baru telah dimulai. Setiap tahun, ratusan ribu hingga jutaan pelajar mendaftarkan diri ke perguruan tinggi favorit mereka masing-masing.  Tipe-tipe calon mahasiswa baru ini menarik untuk dicermati. Ada yang mencari minatnya terlebih dahulu, baru mencari perguruan tinggi yang menyediakan jurusan sesuai minat mereka. Ada juga yang mendaftar semata-mata hanya karena ingin menjadi mahasiswa perguruan tinggi tertentu, tanpa mempedulikan jurusan apa yang diambil. Banyak calon mahasiswa memilih jurusan non favorit demi bisa diterima di salah satu perguruan tinggi. Ada juga yang rela membayar joki dan melakukan praktik kecurangan lainnya dalam mengerjakan tes penerimaan. Patut disyukuri pula, bahwa masih banyak pelajar tetap memperjuangkan kejujuran dan bekerja keras dalam mengerjakan tes.

Tujuan dan sarana

Momen mendaftar ke perguruan tinggi mengingatkan saya pada teks Asas dan Dasar dalam buku Latihan Rohani (LR) St. Ignatius Loyola tentang tujuan dan sarana. Pertanyaannya adalah, masuk ke perguruan tinggi favorit itu termasuk tujuan atau sarana? Banyak orang keliru dalam hal ini dan menempatkan masuk perguruan tinggi sebagai sebuah tujuan yang harus dicapai. Alhasil, banyak dari mereka yang menghalalkan segala cara supaya bisa diterima. Lebih jauh lagi, ketika sudah diterima, mereka akan kebingungan menentukan arah dan kehilangan motivasi karena tujuan sudah tercapai.

Menurut saya, masuk sebuah perguruan tinggi hanyalah sebuah sarana. Sedangkan tujuannya adalah untuk mendapatkan ilmu sehingga nantinya dapat mengabdi Tuhan, sesama dan negara secara lebih optimal. Begitu juga halnya dengan karier dan panggilan hidup Kristiani. Banyak orang terjebak menjadikan pernikahan, imamat, gelar dan karier sebagai suatu tujuan. Akibatnya, banyak orang merasa hampa, kering dan kosong ketika hal-hal tersebut sudah tercapai, karena motivasinya sejak awal sudah keliru. Karier, pernikahan, imamat, dll hanyalah sebuah sarana bagi kita sebagai manusia untuk mengabdi Tuhan dan sesama.

Ketika dicobai iblis di padang gurun, Yesus bersabda “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! (Mat 4:10). Sedangkan tujuan hidup manusia menurut St. Ignatius adalah untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita. Ciptaan lain diciptakan bagi kita untuk menolong dalam mengejar tujuan kita diciptakan (LR 23). Seringkali kita tidak menyadari tujuan ini. Kita masing-masing diciptakan untuk membantu Allah mewujudkan kasih dan berkatNya di dunia. Sayangnya, secara bawah sadar kita hidup dalam suatu tujuan yang terkadang bersifat egosentris. Tak jarang, tujuan bawah sadar itu malah cenderung mengabdi mamon dan kepentingan diri daripada pengabdian kepada Tuhan. Alhasil, hidup kita justru bukan membawa berkat, tapi membawa petaka dan kesulitan bagi orang lain.

Banyak dari kita pun terjebak menjadikan sarana sebagai tujuan. Manusia diandaikan menggunakan segala sesuatu sesuai dengan tujuan hidupnya, yaitu mengabdi dan memuliakan Allah. Menggunakannya bila itu menolong, dan dengan sadar melepaskannya bila itu menjauhkan kita dari Tuhan. Dalam hal ini, Ignatius mengajak kita untuk hidup dengan prinsip. Bila kita mau menerapkannya dengan konsekuen, maka kita akan menjadi orang yang berpendirian. Dengan kesadaran itu, kita akan berkembang menjadi pribadi yang mampu bertanggung jawab atas perbuatan, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, dan lebih jauh lagi membedakan roh Allah dan roh jahat. Bukankan kedewasaan seperti itulah yang diinginkan oleh kita semua?

Sikap lepas bebas

Santo Ignatius mengajak kita untuk bersikap lepas bebas, yaitu memilih sarana hanya yang membawa kita pada tujuan. Maka, kuliah di perguruan tinggi negeri belum tentu menjadi sarana yang lebih baik daripada di perguruan tinggi swasta. Hidup berkeluarga pun belum tentu menjadi sarana yang lebih baik daripada tidak menikah atau selibat.

Kebanyakan dari kita cenderung memilih yang lebih enak, dan segala yang nampaknya menggembirakan. Kita lebih sukar untuk menerima kegagalan dan kesedihan. Kita merasa kecewa bila harus mengalami kesepian, ditinggalkan orang yang dikasihi, hingga menderita sakit. Hal ini lumrah jika kita memandang dari sudut pandang manusiawi pada umumnya. Akan tetapi, jika kita berani memandangnya dari sudut pandang Asas dan Dasar Latihan Rohani St. Ignasius, penilaian dapat menampilkan gambaran lain. Tidak semua yang menggembirakan itu mendekatkan kita pada Allah dan tidak semua kegagalan itu menjauhkan kita dari Allah. Pengalaman sakit, pandemi Covid-19, kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi, bisa saja menjadi sarana bagi kita untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan merenungkan hidup kita. Pengalaman gagal pun bisa saja menjadi sarana Tuhan mendidik kita untuk memiliki mental yang tangguh dan tidak mudah putus asa.

Lepas bebas bukan berarti menyerah pada keadaan dan tidak berjuang. Tuhan tetap menganugerahkan kepada kita kehendak bebas untuk memilih. Sikap lepas bebas membantu kita untuk memilih secara seimbang dan tidak condong pada keinginan pribadi semata. Dengan sadar, kita selalu memilih apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan, yaitu pengabdian dan kemuliaan Allah yang semakin besar. Dari sini, lahirlah kata magis. Kita diharapkan untuk selalu memilih yang lebih membawa kita pada pengabdian dan kemuliaan Tuhan. Berbuat magis bukanlah untuk kemuliaan diri kita, tapi demi kemuliaan Allah yang lebih besar, dalam bahasa latin dikenal dengan istilah Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG). Inilah tujuan dan cara hidup kita sebagai orang Kristiani, yakni melakukan segalanya demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan dan demi pengabdian kepadaNya. Dengan itu pula, kita bisa sekaligus mengabdi sesama, gereja, negara, bahkan dunia.

Mengabdi Allah atau mengabdi mamon?

Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, sejauh mana perjuangan kita sebagai orang Kristiani untuk mengabdi Allah dan sesama?  Jangan-jangan, kita selama ini malah lebih banyak memuliakan dan mengabdi diri kita sendiri. Bisa juga, meskipun rajin berdoa dan merayakan ekaristi, perilaku sehari-hari kita cenderung mencerminkan pengabdian kepada mamon dengan segala dosa dan keegoisan kita. “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon” (Mat 6:24).

Tentu, memperjuangkan pengabdian pada Allah sangat tidak mudah. Godaan manusiawi sering menyeret kita menjauh dari Tuhan. Perjuangan ini takkan pernah berhenti sampai kita mati. Kita tak akan sanggup berjuang sendirian tanpa pertolongan dari Allah sendiri. Maka, marilah kita berjuang bersama dan memohon rahmat kepada Tuhan supaya segala maksud, perbuatan, dan pekerjaan kita diarahkan melulu guna pengabdian dan pujian kepada Allah (LR 46), sehingga kita dapat mencintai dan mengabdi Allah dalam segala hal (LR 233). Untuk tujuan itulah, kita diciptakan. Ad Maiorem Dei Gloriam!

Nicholas Dennis Kurnia

 

 

 

Mengolah relasi dengan ibu

Data buku :

Judul               : Ibuku - Sharing anak dalam menyelami dunia sang ibu

Penulis             : Agustinus Setyodarmono, SJ

Penerbit           : Kanisius, 2020

Tebal               : 141 halaman 

   “Hidup adalah sebuah relasi. Siapa yang bisa berelasi dengan baik, dia akan lebih menikmati hidup ini. Siapa yang tidak bisa berelasi dengan baik, dia akan lebih banyak mendapatkan kesulitan”. Kalimat ini ditulis dua kali oleh Rm. A. Setyodarmono, SJ dalam bukunya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjalin sebuah relasi yang baik dengan siapapun.

            Salah satu pribadi yang berperan paling penting dalam hidup seseorang adalah ibu. Kualitas relasi dengan ibu akan sangat berpengaruh dalam menentukan perkembangan hidup seorang anak. Mulai dari cara mendidik, pola komunikasi, hingga perhatian-perhatian kecil yang diberikan. Tak dapat dipungkiri pula, bahwa ada banyak hal yang mungkin tidak disadari seorang ibu, justru meninggalkan luka dan trauma dalam diri anak sehingga mempengaruhi perkembangan hidupnya hingga dewasa.

            Buku ini berkisah tentang pengalaman seorang anak berelasi dengan ibunya. Penulis dengan murah hati mau membagikan kisah relasi pribadinya bersama sang ibu dengan menarik. Pembaca akan belajar bagaimana seseorang mampu terbuka dan menarasikan pengalaman relasi bersama orang tua, termasuk pengalaman traumatis, kecewa, dan terluka. Menariknya, penulis mampu merefleksikan sebuah pengalaman luka menjadi sebuah makna yang mendalam. Kisah-kisah itu semakin lengkap dengan pengalaman penulis menjadi pembimbing para novis Serikat Yesus di Girisonta. Kisah relasi beberapa novis dengan ibu mereka tentunya juga akan memperkaya para pembaca.

Sebagai seorang anak, membaca buku ini semakin menyadarkan betapa luar biasa peran dan pengaruh seorang ibu. Dari kisah-kisah itu, pembaca juga dapat bercermin untuk melihat pola bagaimana ibu membentuk kita menjadi seperti yang sekarang ini. Untuk para ibu, buku ini juga patut dibaca untuk bercermin atas pengalaman sebagai anak, belajar memahami apa yang dirasakan anak dan pada akhirnya bisa belajar menjadi ibu yang lebih baik. Besar harapan bahwa para ibu yang membaca buku ini dapat lebih bijaksana dan terampil dalam mendampingi tahap perkembangan anak-anak mereka.

Buku ini juga akan sangat berguna bagi para religius dan imam yang bertugas sebagai formator. Buku ini bisa membantu para formator dalam mendampingi formandi mengolah relasi mereka dengan orang tuanya. Kisah-kisah di dalamnya juga membantu para formator untuk bercermin, apakah para formator telah menjadi orang tua yang baik dalam mendidik para formandi?

Kisah-kisah dalam buku ini tak hanya diceritakan secara menarik, tapi juga direfleksikan secara mendalam sehingga para pembaca dapat menemukan makna dan belajar dari masing-masing kisah. Semoga proses mendalami relasi dengan ibu dapat dijadikan pegangan dan pondasi untuk mengembangkan diri, berelasi dengan sesama dan melangkah ke tahap kehidupan yang lebih jauh lagi. 

 


 

Kamis, 31 Desember 2020

Menjalani Pendidikan di Seminari Wacana Bhakti


 

Setelah lulus SMP di Tarki Gading Serpong, gue lanjutin SMA di Seminari Wacana Bhakti. Sekolah ini berdurasi 4 tahun dan bersistem asrama. Tahun pertama disebut KPP (Kelas Persiapan Pertama). Di tahun pertama, kami beradaptasi dengan ritme hidup asrama, sekaligus belajar pelajaran khas seminari (Kitab suci, Bahasa Latin, Liturgi, dll). Baru di tahun kedua, kami masuk kelas 10 di SMA. 

Kenapa gue masuk seminari? Ya dulu sih jiwa explore gue masih tinggi banget, mau cari sekolah yang beda. Jadi ada unsur iseng dan penasaran.  Trus suatu saat ada kakak kelas gue dating promosiin seminari, wah keren juga nih. Tapi siapa sangka, bahwa keisengan gue tersebut justru bener2 merubah hidup gue

Katanya sih, Seminari itu tempat pendidikan calon Pastor/Romo. Mungkin bisa dibilang pesantrennya Katolik kali ya. Tapi menurut gue, Seminari lebih dari itu. Seminari adalah tempat pendidikan menjadi ‘orang' dan 'manusia' yang utuh dan dewasa.

 

Dari seorang remaja yang labil, jadi seseorang yang berani ambil keputusan besar : Lanjut atau Jebling (baca :keluar). Dari seorang remaja yang males dan manja, jadi seseorang yang (agak) rajin dan mandiri. Dari seorang remaja yang gak kenal Tuhan, jadi seseorang yang sedikit lebih mengenal Tuhan dan mulai membangun kebiasaan doa. Dari seorang remaja yang ansos, jadi punya banyak teman dan sahabat yang udah serasa keluarga sendiri, karena hidup di satu atap melewati suka duka bersama selama ± 4 tahun.

Gue belajar apa di seminari dan aspek kehidupan apa aja yang berkembang?  

Gue membaginya berdasarkan 4 core values Seminari / 4S : Sanctitas (Hidup doa), Scientia (Hidup studi), Sanitas (Hidup sehat) dan Societas (hidup berkomunitas). 

1. SANCTITAS (Hidup Doa)

Di Seminari, kami dibiasakan memulai dan menutup hari dengan doa. Di pagi hari ada ibadat pagi (laudes), dilanjut misa harian. Di sore hari ada ibadat sore(Vesper)/bacaan rohani, di malam hari ada completorium, rosario, dan doa-doa lainnya. Ya walaupun kadang dijalani dengan stengah-stengah : Waktu misa ketiduran trus tiba-tiba berdiri sendiri karna kaget dan harus nanggung malu , cabut doa malem, dll ( kayaknya gak perlu dibocorin semua). 

 

 

Gue bersyukur 4 tahun di Seminari mau gak mau membentuk kebiasaan untuk berdoa (bolong-bolong juga sih). Tapi gue inget satu pepatah : When a prayer becomes a habit, miracles become your lifestyle. 

Sesuatu yang kita lakuin berulang-ulang kali, otomatis akan jadi kebiasaan. Walaupun mungkin pada awalnya susah, tapi ketika udah terbiasa, hal itu akan jauh terasa lebih mudah. Kita sebagai manusia punya kemampuan memilih. Tinggal pilih aja deh mau memperjuangkan kebiasaan baik dan mengurangi kebiasaan buruk, atau sebaliknya.

 

Uploading: 133972 of 133972 bytes uploaded.

 

2. SCIENTIA (Hidup Studi)

Nilai gue pas SD dan SMP tuh gak bagus-bagus amat. Tapi setelah masuk Seminari, puji Tuhan nilai gue jauh lebih baik dibanding pas gue SD dan SMP. Gue sadar nilai gue meningkat di SMA bukan karna faktor intelektual aja. Waktu belajar di rumah pas SD dan SMP, mungkin gue kurang bisa mengerasi diri dalam belajar. Kalau belajar pun, distraksinya banyak. Ada HP, ada cemilan, dan durasinya bisa suka-suka gue (banyak kortingnya)

 

 

Di Seminari, jam studi teratur. Sebelum makan malam ada studi 1, setelah makan sampai doa malam ada studi 2. Ditambah lagi bisa belajar dan ngerjain tugas bareng teman-teman.

Disini gue baru paham bahwa nilai bagus tuh gak semata-mata buat orang ber- iq tinggi. Kalo kita punya kebiasaan studi yang baik, bisa manajemen waktu, mau mengerasi diri buat belajar dengan kerja keras, nilai yang bagus pasti akan ngikutin. Gue jadi meyakini kebenaran omongan wali kelas gue pas SD “orang pinter itu bisa kalah dengan orang bodoh yang rajin belajar dan bekerja keras”

 

3. SANITAS (Hidup Sehat)

Di seminari gue juga diajak untuk peduli dengan kesehatan diri sendiri. Mengatur pola makan, olahraga, menjaga kebersihan, hingga merawat teman yang sakit. Semua ini harus kita urusin sendiri dan menguji kemandirian kita sebagai pribadi. Berbeda dengan diri gue waktu dirumah.Hidup gue dirumah bisa dibilang cukup nyaman. Baju dicuciin, piring dicuciin, rumah dan kamar ada yang bersihin, dsb. Di Seminari, gue harus melakukan semua hal itu sendiri. Cuci baju, handuk, seragam ,piring, nyapu, ngepel, nyikat wc, hingga piket buang sampah seminggu sekali. Setiap jam 15.30, ada yang namanya opera yaitu kegiatan bersih-bersih selama 30 menit. Males? Udah pasti. Cabut? Lumayan sering, hehe. Hingga buru-buru selesai opera demi kebagian tim buat main basket. 

Walaupun malesin, opera ternyata menumbuhkan sense of belonging, kepekaan, dan kepedulian pada lingkungan tempat kami tinggal. Gue tinggal di WB, berarti gue harus bertanggung jawab atas kebersihan WB dong?? Kalo cuma numpang tinggal, itu namanya kos-kosan dong?

Kepedulian semacam ini kurang tumbuh saat gue tinggal di rumah sebelum masuk WB, karena semuanya udah ada yang ngerjain dan gue tinggal terima beres. Hidup di asrama juga membuat gue lebih menghargai sosok pembantu rumah tangga, khususnya mbak yang kerja di rumah gue. Ketika ngerasain gimana capeknya nyapu, ngepel, cuci baju, dst, gue baru menyadari bahwa kerjaan pembantu gue di rumah itu lumayan berat. Hal ini juga membuat gue jadi lebih menghargai orang-orang sederhana lainnya, seperti cleaning service dan waiter.

4. SOCIETAS (Hidup Berkomunitas)

Hidup dan tinggal di sebuah komunitas laki-laki dengan jumlah yang lumayan banyak (72 s/d 120-an orang) itu cukup menantang. Kami berasal dari latar belakang keluarga, sekolah, tempat tinggal, dan kepribadian yang berbeda-beda. Sleg, ketidakcocokan, perbedaan pendapat adalah hal yang biasa.

Pada Bulan Desember 2014, kami mengadakan retret angkatan untuk yang pertama kali. Ada satu sesi dimana kami melakukan correctio fraterna. Jadi, kami duduk membentuk stengah lingkaran. Masing-masing orang maju ketengah, dan sisanya secara berurutan memberikan deskripsi, kelebihan, kekesalan, uneg-uneg hingga masukan untuk orang yang ditengah itu secara terbuka.

Kegiatan itu cukup membantu pembangunan dinamika awal kami sebagai angkatan. Kami belajar untuk membangun pertemanan secara sehat. Gak ngomongin dari belakang atau manis didepan aja, tapi berani menegur, menanggung kerapuhan teman, dan saling membantu teman untuk berkembang.

Mengadaptasi kutipan John F. Kennedy, jangan bertanya apa yang udah kita dapatkan dari teman/komunitas/keluarga kita, tapi tanyalah apa yang udah bisa kita berikan untuk mereka. Sulit sih, jadi mari berjuang bersama untuk menjadi teman, keluarga dan anggota komunitas yang baik!

 

Dari tadi cerita baik-baiknya aja, sekarang cerita sebagian sisi buruknya. Sebagai remaja/anak baru gede (abg), kami menginginkan otonomi/kebebasan dan suka memberontak. Tak jarang, kami sering melanggar peraturan dan jadi nakal. Beli nasi goreng malam2, cabut malam minggu, dll menjadi hal yang biasa. Kami ingin kebebasan. Jadi, kami melanggar peraturan. Tak jarang kenakalan kami tercium oleh para pamong (pembina) kami. Pamong yang seharusnya bertindak sebagai pendidik, pendamping dan pembina, terpaksa mengambil peran seorang satpam yang mengawasi dan polisi yang menghukum. Mereka terpaksa begitu karena kami yang selalu kucing-kucingan dan tingkah kami yang nakal.



Saat gue masih seminaris dulu, gue agak kesal dengan mereka dan menganggap kami-lah yang benar."Kami juga remaja biasa yang mau menikmati masa remaja kami", begitu kami sering membela diri. Tapi setelah dipikir-pikir, ini kan pilihan gue. Kalo udah milih sekolah disini, ya gue harus taat sama peraturannya dengan segala konsekuensinya dan pengorbanannya dong? Dari sini gue belajar untuk bertanggungjawab dan totalitas dalam menjalani suatu pilihan.

Ketika melakukan pelanggaran untuk mencapai kebebasan, bukannya kebebasan yang kami dapat, tapi justru rasa was-was dan takut. Kebebasan yang sejati didapat justru ketika kami mentaati peraturan dan terbuka dengan pamong. Kata seorang pembimbing rohani gue, "Nakal itu boleh dan wajar kok, asal gak bego, tahu batasan dan gak jadi bajingan. Tapi kalo terus nakal dan kucing-kucingan, kapan jadi dewasanya?"

Ya.. gue bersyukur pernah nakal dan sekarang bisa mengambil hikmahnya. Kami minta maaf dan mengucapkan terima kasih untuk para pamong kami atas kesabarannya dalam mendampingi kami yang nakal-nakal ini.

 



Terima kasih telah menjadi 'house' tempat gue tidur, mandi, belajar, makan selama 4 tahun gue menjalani pendidikan SMA. Terima kasih juga telah menjadi 'home', tempat gue membangun persahabatan dan memperoleh nilai-nilai dan bekal untuk hidup gue selanjutnya.

Semoga kami benar-benar bisa menjadi masa depan gereja (dan negara), sebagai gembala setia dan pemimpin sejati, sesuai dengan panggilan kami masing-masing.

 

 


Rabu, 30 Desember 2020

Pengalaman Hidup Kita Itu Banyak, Sayang Kalau Berlalu Begitu Saja

 

    Kita semua sebagai manusia pasti punya pengalaman. Dalam satu hari, pengalaman itu bisa bermacam-macam, bahkan bisa ribuan. Pengalaman mimpi tadi malam, mood saat bangun pagi, bersekolah, masak, nonton youtube, chat gebetan, bertemu dengan seseorang, dsb. Tapi, kita, khususnya yang hidup di kota besar, cenderung melewati hari dan pengalaman itu begitu aja. Dinamika kehidupan di kota besar temponya supercepat, sehingga kita kadang tidak punya waktu untuk hening, melihat apa yang terjadi dalam diri kita, dan mengambil makna dari suatu peristiwa, saking cepatnya arus kehidupan dan lelahnya beban pekerjaan/studi.

Ini tujuan awal saya membuat blog dan podcast. Selama tinggal di Tangerang, saya banyak kehilangan waktu untuk hening dan refleksi. Distraksinya sangat banyak, mulai dari HP, laptop, teman-teman, youtube, Netflix, dll. Kalo itu dibiarkan terus menerus, hidup kita tidak bakal ada artinya. Ya jalan begitu saja seperti kita kalo naik pesawat, tanpa sadar kita sudah sampai ke tempat tujuan. Berbeda dengan naik mobil, ketika kita bisa mampir di tempat tertentu, lebih lama menikmati pemandangan yang indah. Walaupun pesawat juga menyajikan pemandangan yang luar biasa indah, namun biasanya tidak bertahan lama. Setelah beberapa lama perjalanan, pemandangan indah biasanya hilang ditutupi awan putih. 

"Hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dihidupi". Socrates melihat bahwa hidup manusia berjalan bersama sang waktu dengan aneka realitas dan pengalaman yang terjadi. Socrates mengajak setiap orang untuk merefleksikan perjalanan hidupnya. Jangan asal berlalu begitu saja, tetapi memetik nilai kebijaksanaan dalam setiap hal yang kita lihat, kita alami dan segala yang telah terjadi. 


Refleksi atas pengalaman mungkin mirip dengan iluminasi. Bayangkan kita naik mobil di malam hari, di jalan yang tidak ada lampu jalannya. Atau kita berada di suatu ruangan gelap yang tidak ada lampunya. Mungkin saja, di pinggir jalan tersebut ada sawah yang indah, gunung yang megah, bangunan perumahan yang memukau. Atau ruangan gelap itu ternyata di desain oleh arsitek terkenal dan tersimpan lukisan-lukisan langka didalamnya. Namun, jika gelap, kita tidak bisa menikmatinya. Menurut saya, pengalaman-pengalaman kita itu bagaikan jalan atau ruangan yang gelap tadi. Sedangkan usaha kita untuk merefleksikannya adalah terang yang menyinari jalanan atau ruangan tadi, sehingga ada banyak pemandangan yang bisa kita nikmati. 


Hanya orang bodoh yang jatuh di lubang yang sama. Berefleksi itu membantu kita untuk tidak jatuh di kesalahan yang sama, sehingga diri kita berkembang dari hari ke hari. Berbuat salah ya menurut saya lumrah, wajar dan malah harus kita lakukan. Karena dengan itu,kita belajar banyak tentang kehidupan dan pastinya akan memacu diri kita untuk lebih baik lagi dari hari ke hari. 

Lalu, bagaimana cara kita untuk merefleksikan pengalaman? Cara paling mudah dan klasik adalah dengan menulisnya. Bisa dalam bentuk journaling atau diary. Metode ini mudah sekaligus keren. Suatu hari nanti, kita bisa melihat-lihat lagi tulisan kita atau flashback. Kita juga bisa melihat pola-pola hidup kita, dan pada akhirnya bisa lebih mengenali diri kita yang mungkin selama ini tidak kita sadari.


 

Cara kedua yang saya sarankan jauh lebih sederhana. Bisa dilakukan sebelum kita tidur. Sebelum tidur, coba deh kita ajukan 3 pertanyaan ini ke diri kita. 

1. Apa yang saya syukuri hari ini?

2. Apa yang saya sesali hari ini

3. Besok, saya mau jadi seperti apa?

Menurut saya, 3 pertanyaan ini akan sangat membantu diri kita untuk berkembang dari hari ke hari. Lebih baik lagi jika jawaban atas pertanyaan ini dicatat sehingga kita bisa melihatnya dari hari ke hari. 

Jadi, mari kita bersama-sama belajar dari pengalaman hidup kita, dan dengan itu, hidup kita akan diiluminasikan dengan berbagai nilai2 kehidupan yang akan berdampak baik buat diri kita sendiri dan orang lain di sekitar kita. 

Minggu, 06 September 2020

SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA!

Setiap orang mendambakan hidup yang nyaman, sukses, bahagia, kaya, pokoknya yang serba enak. Tapi apakah kenyataannya seperti itu? TIDAK!

Hidup ini harus melewati sakitnya terjatuh, beratnya untuk bangun kembali, penderitaan, ketakutan, rasa malu, dan berbagai hal yang tidak kita inginkan.

Apakah sekolah SD hingga SMA mengajarkan kita bagaimana bersikap menghadapi ketakutan? Bagaimana caranya berkomunikasi dengan baik? Apa arti cinta dan persahabatan? Saya merasa hal-hal itu tidak begitu ditekankan selama sekolah. Sekolah lebih mementingkan kita untuk mendapatkan nilai bagus di matematika daripada budi pekerti. 

Lalu, siapa yang mengajarkan kita mengenai kehidupan?

Tentu, sekolah, keluarga, teman, sahabat pasti mengajarkan banyak kepada kita soal kehidupan. Namun guru utama itu ialah DIRI KITA SENDIRI. Ya, pengalaman adalah ibu segala pengetahuan.

Melalui pengalaman jatuh, kita belajar bagaimana caranya untuk bangun. Melalui pengalaman menderita, kita belajar bagaimana caranya untuk berdaya tahan. Begitu seterusnya. 

Masalahnya adalah, kerapkali kita tidak menyadari bahwa suatu pengalaman ternyata sedang mengajarkan kita sesuatu. Pikiran kita tertutup dengan emosi akibat peristiwa tersebut, kita tidak mau meluangkan waktu untuk berefleksi dan merenungkan suatu peristiwa. Padahal, setiap peristiwa dalam hidup kita adalah Coach, Mentor, dan Guru terbaik.

Ada apa di Blog ini? 

Saya senang dan rutin menulis berbagai pengalaman yang telah saya lalui supaya saya bisa belajar darinya. Itulah yang menjadi tujuan saya menulis blog ini. Untuk membagikan berbagai pengalaman saya, sehingga bukan saya saja yang belajar, tapi orang lain pun bisa ikut belajar tentang kehidupan dari pengalaman hidup saya.

Di Blog ini, saya juga akan membagikan pemikiran, opini, dan essay tentang berbagai dimensi kehidupan. Mulai dari buku-buku yang telah saya baca, tugas-tugas kuliah, pengalaman hidup saya tentang persahabatan, jatuh cinta, mengambil keputusan, relasi dengan Tuhan, pendidikan, masalah politik dan hubungan internasional, hingga spiritualitas Ignasian yang saya pelajari selama 2 tahun di Girisonta, Semarang.

Siapa sih penulis Blog ini?

Nama saya Nicholas Dennis Kurnia, biasa dipanggil Dennis. Sekarang, saya sedang menempuh pendidikan sarjana Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Sekolah saya di setiap tahap berbeda-beda. TK dan SD di Kota Tangerang, SMP di Gading Serpong, SMA pindah ke sebuah asrama di Jakarta dengan Pendidikan 4 tahun. Selepas SMA, mencoba menjawab rasa penasaran saya dengan menjadi Yesuit di Semarang selama 2 tahun. Dan di usia 21, saya baru akan memulai perkuliahan sebagai mahasiswa baru. Perjalanan hidup saya cukup banyak nyasarnya, belok kesana kemari, jalannya kadang berbatu dan becek pula. Capek sih, tapi itu yang membuat hidup ini seru dan menarik, walaupun berat dan penuh rintangan.  

Apakah saya menyesal? Tentu saja tidak. Pengalaman nyasar dan berbelok itulah yang mengajarkan saya banyak tentang kehidupan. Saya sudah memiliki banyak bekal hidup yang saya yakini akan berguna di masa depan saya. Kata seorang spiritual, timeline orang itu berbeda-beda. Kata seorang psikolog, pertumbuhan dan kedewasaan orang itu berbeda-beda. Saya ingin mensyukuri hidup saya, dengan membagikan pengalaman jatuh, bangun dan bertumbuhnya diri saya hingga saat ini.

Jargon Yesuit yang paling terkenal antara lain Ad Maiorem Dei Gloriam (demi semakin besarnya kemuliaan Allah) dan Man for others. Saya kira, itu yang sekarang menjadi goal dan tujuan hidup saya. Bukan lagi untuk kemuliaan dan pemenuhan diri sendiri, tapi untuk kemuliaan Allah dan keselamatan sesama.

Semoga tulisan-tulisan saya di blog ini dapat membantu anda semua dalam menjalani berbagai dimensi kehidupan, dan syukur-syukur, dengan itu nama Tuhan dapat semakin dimuliakan. AMDG!