Tahun ajaran baru
telah dimulai. Setiap tahun, ratusan ribu hingga jutaan pelajar mendaftarkan
diri ke perguruan tinggi favorit mereka masing-masing. Tipe-tipe calon mahasiswa baru ini menarik
untuk dicermati. Ada yang mencari minatnya terlebih dahulu, baru mencari perguruan
tinggi yang menyediakan jurusan sesuai minat mereka. Ada juga yang mendaftar semata-mata
hanya karena ingin menjadi mahasiswa perguruan tinggi tertentu, tanpa
mempedulikan jurusan apa yang diambil. Banyak calon mahasiswa memilih jurusan
non favorit demi bisa diterima di salah satu perguruan tinggi. Ada juga yang
rela membayar joki dan melakukan praktik kecurangan lainnya dalam mengerjakan
tes penerimaan. Patut disyukuri pula, bahwa masih banyak pelajar tetap
memperjuangkan kejujuran dan bekerja keras dalam mengerjakan tes.
Tujuan dan
sarana
Momen mendaftar ke
perguruan tinggi mengingatkan saya pada teks Asas dan Dasar dalam buku Latihan
Rohani (LR) St. Ignatius Loyola tentang tujuan dan sarana. Pertanyaannya
adalah, masuk ke perguruan tinggi favorit itu termasuk tujuan atau sarana?
Banyak orang keliru dalam hal ini dan menempatkan masuk perguruan tinggi
sebagai sebuah tujuan yang harus dicapai. Alhasil, banyak dari mereka yang
menghalalkan segala cara supaya bisa diterima. Lebih jauh lagi, ketika sudah
diterima, mereka akan kebingungan menentukan arah dan kehilangan motivasi
karena tujuan sudah tercapai.
Menurut saya, masuk
sebuah perguruan tinggi hanyalah sebuah sarana. Sedangkan tujuannya adalah
untuk mendapatkan ilmu sehingga nantinya dapat mengabdi Tuhan, sesama dan
negara secara lebih optimal. Begitu juga halnya dengan karier dan panggilan
hidup Kristiani. Banyak orang terjebak menjadikan pernikahan, imamat, gelar dan
karier sebagai suatu tujuan. Akibatnya, banyak orang merasa hampa, kering dan
kosong ketika hal-hal tersebut sudah tercapai, karena motivasinya sejak awal
sudah keliru. Karier, pernikahan, imamat, dll hanyalah sebuah sarana bagi kita
sebagai manusia untuk mengabdi Tuhan dan sesama.
Ketika dicobai iblis
di padang gurun, Yesus bersabda “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan
hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! (Mat 4:10). Sedangkan tujuan hidup
manusia menurut St. Ignatius adalah untuk memuji, menghormati serta mengabdi
Allah Tuhan kita. Ciptaan lain diciptakan bagi kita untuk menolong dalam
mengejar tujuan kita diciptakan (LR 23). Seringkali kita tidak menyadari tujuan
ini. Kita masing-masing diciptakan untuk membantu Allah mewujudkan kasih dan
berkatNya di dunia. Sayangnya, secara bawah sadar kita hidup dalam suatu tujuan
yang terkadang bersifat egosentris. Tak jarang, tujuan bawah sadar itu malah cenderung
mengabdi mamon dan kepentingan diri daripada pengabdian kepada Tuhan. Alhasil,
hidup kita justru bukan membawa berkat, tapi membawa petaka dan kesulitan bagi
orang lain.
Banyak dari kita pun terjebak
menjadikan sarana sebagai tujuan. Manusia diandaikan menggunakan segala sesuatu
sesuai dengan tujuan hidupnya, yaitu mengabdi dan memuliakan Allah.
Menggunakannya bila itu menolong, dan dengan sadar melepaskannya bila itu menjauhkan
kita dari Tuhan. Dalam hal ini, Ignatius mengajak kita untuk hidup dengan prinsip. Bila kita mau
menerapkannya dengan konsekuen, maka kita akan menjadi orang yang berpendirian.
Dengan kesadaran itu, kita akan berkembang menjadi pribadi yang mampu bertanggung
jawab atas perbuatan, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, dan lebih jauh
lagi membedakan roh Allah dan roh jahat. Bukankan kedewasaan seperti itulah
yang diinginkan oleh kita semua?
Sikap lepas
bebas
Santo Ignatius mengajak
kita untuk bersikap lepas bebas, yaitu memilih sarana hanya yang membawa kita
pada tujuan. Maka, kuliah di perguruan tinggi negeri belum tentu menjadi sarana
yang lebih baik daripada di perguruan tinggi swasta. Hidup berkeluarga pun
belum tentu menjadi sarana yang lebih baik daripada tidak menikah atau selibat.
Kebanyakan dari kita cenderung
memilih yang lebih enak, dan segala yang nampaknya menggembirakan. Kita lebih sukar
untuk menerima kegagalan dan kesedihan. Kita merasa kecewa
bila harus mengalami kesepian, ditinggalkan orang yang dikasihi, hingga
menderita sakit. Hal ini lumrah jika kita memandang dari sudut pandang
manusiawi pada umumnya. Akan tetapi, jika kita berani memandangnya dari sudut
pandang Asas dan Dasar Latihan Rohani St. Ignasius, penilaian dapat menampilkan
gambaran lain. Tidak semua yang menggembirakan itu mendekatkan kita pada Allah
dan tidak semua kegagalan itu menjauhkan kita dari Allah. Pengalaman sakit, pandemi
Covid-19, kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi, bisa saja menjadi sarana
bagi kita untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan merenungkan hidup kita.
Pengalaman gagal pun bisa saja menjadi sarana Tuhan mendidik kita untuk
memiliki mental yang tangguh dan tidak mudah putus asa.
Lepas bebas bukan
berarti menyerah pada keadaan dan tidak berjuang. Tuhan tetap menganugerahkan
kepada kita kehendak bebas untuk memilih. Sikap lepas bebas membantu kita untuk
memilih secara seimbang dan tidak condong pada keinginan pribadi semata. Dengan
sadar, kita selalu memilih apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan,
yaitu pengabdian dan kemuliaan Allah yang semakin besar. Dari sini, lahirlah kata magis.
Kita diharapkan untuk selalu memilih yang lebih membawa kita pada pengabdian
dan kemuliaan Tuhan. Berbuat magis bukanlah untuk kemuliaan diri kita, tapi
demi kemuliaan Allah yang lebih besar, dalam bahasa latin dikenal dengan
istilah Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG). Inilah tujuan dan cara hidup kita
sebagai orang Kristiani, yakni melakukan segalanya demi semakin besarnya
kemuliaan Tuhan dan demi pengabdian kepadaNya. Dengan itu pula, kita bisa
sekaligus mengabdi sesama, gereja, negara, bahkan dunia.
Mengabdi
Allah atau mengabdi mamon?
Mari kita bertanya
pada diri kita masing-masing, sejauh mana perjuangan kita sebagai orang
Kristiani untuk mengabdi Allah dan sesama?
Jangan-jangan, kita selama ini malah lebih banyak memuliakan dan mengabdi
diri kita sendiri. Bisa juga, meskipun rajin berdoa dan merayakan ekaristi,
perilaku sehari-hari kita cenderung mencerminkan pengabdian kepada mamon dengan
segala dosa dan keegoisan kita. “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak
dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon” (Mat 6:24).
Tentu, memperjuangkan pengabdian
pada Allah sangat tidak mudah. Godaan manusiawi sering menyeret kita menjauh
dari Tuhan. Perjuangan ini takkan pernah berhenti sampai kita mati. Kita tak
akan sanggup berjuang sendirian tanpa pertolongan dari Allah sendiri. Maka,
marilah kita berjuang bersama dan memohon rahmat kepada Tuhan supaya segala
maksud, perbuatan, dan pekerjaan kita diarahkan melulu guna pengabdian dan
pujian kepada Allah (LR 46), sehingga kita dapat mencintai dan mengabdi Allah
dalam segala hal (LR 233). Untuk tujuan itulah, kita diciptakan. Ad Maiorem Dei
Gloriam!
Nicholas
Dennis Kurnia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar