Jumat, 01 Januari 2021

Apa Tujuan Kita Diciptakan?

Tahun ajaran baru telah dimulai. Setiap tahun, ratusan ribu hingga jutaan pelajar mendaftarkan diri ke perguruan tinggi favorit mereka masing-masing.  Tipe-tipe calon mahasiswa baru ini menarik untuk dicermati. Ada yang mencari minatnya terlebih dahulu, baru mencari perguruan tinggi yang menyediakan jurusan sesuai minat mereka. Ada juga yang mendaftar semata-mata hanya karena ingin menjadi mahasiswa perguruan tinggi tertentu, tanpa mempedulikan jurusan apa yang diambil. Banyak calon mahasiswa memilih jurusan non favorit demi bisa diterima di salah satu perguruan tinggi. Ada juga yang rela membayar joki dan melakukan praktik kecurangan lainnya dalam mengerjakan tes penerimaan. Patut disyukuri pula, bahwa masih banyak pelajar tetap memperjuangkan kejujuran dan bekerja keras dalam mengerjakan tes.

Tujuan dan sarana

Momen mendaftar ke perguruan tinggi mengingatkan saya pada teks Asas dan Dasar dalam buku Latihan Rohani (LR) St. Ignatius Loyola tentang tujuan dan sarana. Pertanyaannya adalah, masuk ke perguruan tinggi favorit itu termasuk tujuan atau sarana? Banyak orang keliru dalam hal ini dan menempatkan masuk perguruan tinggi sebagai sebuah tujuan yang harus dicapai. Alhasil, banyak dari mereka yang menghalalkan segala cara supaya bisa diterima. Lebih jauh lagi, ketika sudah diterima, mereka akan kebingungan menentukan arah dan kehilangan motivasi karena tujuan sudah tercapai.

Menurut saya, masuk sebuah perguruan tinggi hanyalah sebuah sarana. Sedangkan tujuannya adalah untuk mendapatkan ilmu sehingga nantinya dapat mengabdi Tuhan, sesama dan negara secara lebih optimal. Begitu juga halnya dengan karier dan panggilan hidup Kristiani. Banyak orang terjebak menjadikan pernikahan, imamat, gelar dan karier sebagai suatu tujuan. Akibatnya, banyak orang merasa hampa, kering dan kosong ketika hal-hal tersebut sudah tercapai, karena motivasinya sejak awal sudah keliru. Karier, pernikahan, imamat, dll hanyalah sebuah sarana bagi kita sebagai manusia untuk mengabdi Tuhan dan sesama.

Ketika dicobai iblis di padang gurun, Yesus bersabda “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! (Mat 4:10). Sedangkan tujuan hidup manusia menurut St. Ignatius adalah untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita. Ciptaan lain diciptakan bagi kita untuk menolong dalam mengejar tujuan kita diciptakan (LR 23). Seringkali kita tidak menyadari tujuan ini. Kita masing-masing diciptakan untuk membantu Allah mewujudkan kasih dan berkatNya di dunia. Sayangnya, secara bawah sadar kita hidup dalam suatu tujuan yang terkadang bersifat egosentris. Tak jarang, tujuan bawah sadar itu malah cenderung mengabdi mamon dan kepentingan diri daripada pengabdian kepada Tuhan. Alhasil, hidup kita justru bukan membawa berkat, tapi membawa petaka dan kesulitan bagi orang lain.

Banyak dari kita pun terjebak menjadikan sarana sebagai tujuan. Manusia diandaikan menggunakan segala sesuatu sesuai dengan tujuan hidupnya, yaitu mengabdi dan memuliakan Allah. Menggunakannya bila itu menolong, dan dengan sadar melepaskannya bila itu menjauhkan kita dari Tuhan. Dalam hal ini, Ignatius mengajak kita untuk hidup dengan prinsip. Bila kita mau menerapkannya dengan konsekuen, maka kita akan menjadi orang yang berpendirian. Dengan kesadaran itu, kita akan berkembang menjadi pribadi yang mampu bertanggung jawab atas perbuatan, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, dan lebih jauh lagi membedakan roh Allah dan roh jahat. Bukankan kedewasaan seperti itulah yang diinginkan oleh kita semua?

Sikap lepas bebas

Santo Ignatius mengajak kita untuk bersikap lepas bebas, yaitu memilih sarana hanya yang membawa kita pada tujuan. Maka, kuliah di perguruan tinggi negeri belum tentu menjadi sarana yang lebih baik daripada di perguruan tinggi swasta. Hidup berkeluarga pun belum tentu menjadi sarana yang lebih baik daripada tidak menikah atau selibat.

Kebanyakan dari kita cenderung memilih yang lebih enak, dan segala yang nampaknya menggembirakan. Kita lebih sukar untuk menerima kegagalan dan kesedihan. Kita merasa kecewa bila harus mengalami kesepian, ditinggalkan orang yang dikasihi, hingga menderita sakit. Hal ini lumrah jika kita memandang dari sudut pandang manusiawi pada umumnya. Akan tetapi, jika kita berani memandangnya dari sudut pandang Asas dan Dasar Latihan Rohani St. Ignasius, penilaian dapat menampilkan gambaran lain. Tidak semua yang menggembirakan itu mendekatkan kita pada Allah dan tidak semua kegagalan itu menjauhkan kita dari Allah. Pengalaman sakit, pandemi Covid-19, kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi, bisa saja menjadi sarana bagi kita untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan merenungkan hidup kita. Pengalaman gagal pun bisa saja menjadi sarana Tuhan mendidik kita untuk memiliki mental yang tangguh dan tidak mudah putus asa.

Lepas bebas bukan berarti menyerah pada keadaan dan tidak berjuang. Tuhan tetap menganugerahkan kepada kita kehendak bebas untuk memilih. Sikap lepas bebas membantu kita untuk memilih secara seimbang dan tidak condong pada keinginan pribadi semata. Dengan sadar, kita selalu memilih apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan, yaitu pengabdian dan kemuliaan Allah yang semakin besar. Dari sini, lahirlah kata magis. Kita diharapkan untuk selalu memilih yang lebih membawa kita pada pengabdian dan kemuliaan Tuhan. Berbuat magis bukanlah untuk kemuliaan diri kita, tapi demi kemuliaan Allah yang lebih besar, dalam bahasa latin dikenal dengan istilah Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG). Inilah tujuan dan cara hidup kita sebagai orang Kristiani, yakni melakukan segalanya demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan dan demi pengabdian kepadaNya. Dengan itu pula, kita bisa sekaligus mengabdi sesama, gereja, negara, bahkan dunia.

Mengabdi Allah atau mengabdi mamon?

Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, sejauh mana perjuangan kita sebagai orang Kristiani untuk mengabdi Allah dan sesama?  Jangan-jangan, kita selama ini malah lebih banyak memuliakan dan mengabdi diri kita sendiri. Bisa juga, meskipun rajin berdoa dan merayakan ekaristi, perilaku sehari-hari kita cenderung mencerminkan pengabdian kepada mamon dengan segala dosa dan keegoisan kita. “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon” (Mat 6:24).

Tentu, memperjuangkan pengabdian pada Allah sangat tidak mudah. Godaan manusiawi sering menyeret kita menjauh dari Tuhan. Perjuangan ini takkan pernah berhenti sampai kita mati. Kita tak akan sanggup berjuang sendirian tanpa pertolongan dari Allah sendiri. Maka, marilah kita berjuang bersama dan memohon rahmat kepada Tuhan supaya segala maksud, perbuatan, dan pekerjaan kita diarahkan melulu guna pengabdian dan pujian kepada Allah (LR 46), sehingga kita dapat mencintai dan mengabdi Allah dalam segala hal (LR 233). Untuk tujuan itulah, kita diciptakan. Ad Maiorem Dei Gloriam!

Nicholas Dennis Kurnia

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar