Rabu, 30 Desember 2020

Pengalaman Hidup Kita Itu Banyak, Sayang Kalau Berlalu Begitu Saja

 

    Kita semua sebagai manusia pasti punya pengalaman. Dalam satu hari, pengalaman itu bisa bermacam-macam, bahkan bisa ribuan. Pengalaman mimpi tadi malam, mood saat bangun pagi, bersekolah, masak, nonton youtube, chat gebetan, bertemu dengan seseorang, dsb. Tapi, kita, khususnya yang hidup di kota besar, cenderung melewati hari dan pengalaman itu begitu aja. Dinamika kehidupan di kota besar temponya supercepat, sehingga kita kadang tidak punya waktu untuk hening, melihat apa yang terjadi dalam diri kita, dan mengambil makna dari suatu peristiwa, saking cepatnya arus kehidupan dan lelahnya beban pekerjaan/studi.

Ini tujuan awal saya membuat blog dan podcast. Selama tinggal di Tangerang, saya banyak kehilangan waktu untuk hening dan refleksi. Distraksinya sangat banyak, mulai dari HP, laptop, teman-teman, youtube, Netflix, dll. Kalo itu dibiarkan terus menerus, hidup kita tidak bakal ada artinya. Ya jalan begitu saja seperti kita kalo naik pesawat, tanpa sadar kita sudah sampai ke tempat tujuan. Berbeda dengan naik mobil, ketika kita bisa mampir di tempat tertentu, lebih lama menikmati pemandangan yang indah. Walaupun pesawat juga menyajikan pemandangan yang luar biasa indah, namun biasanya tidak bertahan lama. Setelah beberapa lama perjalanan, pemandangan indah biasanya hilang ditutupi awan putih. 

"Hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dihidupi". Socrates melihat bahwa hidup manusia berjalan bersama sang waktu dengan aneka realitas dan pengalaman yang terjadi. Socrates mengajak setiap orang untuk merefleksikan perjalanan hidupnya. Jangan asal berlalu begitu saja, tetapi memetik nilai kebijaksanaan dalam setiap hal yang kita lihat, kita alami dan segala yang telah terjadi. 


Refleksi atas pengalaman mungkin mirip dengan iluminasi. Bayangkan kita naik mobil di malam hari, di jalan yang tidak ada lampu jalannya. Atau kita berada di suatu ruangan gelap yang tidak ada lampunya. Mungkin saja, di pinggir jalan tersebut ada sawah yang indah, gunung yang megah, bangunan perumahan yang memukau. Atau ruangan gelap itu ternyata di desain oleh arsitek terkenal dan tersimpan lukisan-lukisan langka didalamnya. Namun, jika gelap, kita tidak bisa menikmatinya. Menurut saya, pengalaman-pengalaman kita itu bagaikan jalan atau ruangan yang gelap tadi. Sedangkan usaha kita untuk merefleksikannya adalah terang yang menyinari jalanan atau ruangan tadi, sehingga ada banyak pemandangan yang bisa kita nikmati. 


Hanya orang bodoh yang jatuh di lubang yang sama. Berefleksi itu membantu kita untuk tidak jatuh di kesalahan yang sama, sehingga diri kita berkembang dari hari ke hari. Berbuat salah ya menurut saya lumrah, wajar dan malah harus kita lakukan. Karena dengan itu,kita belajar banyak tentang kehidupan dan pastinya akan memacu diri kita untuk lebih baik lagi dari hari ke hari. 

Lalu, bagaimana cara kita untuk merefleksikan pengalaman? Cara paling mudah dan klasik adalah dengan menulisnya. Bisa dalam bentuk journaling atau diary. Metode ini mudah sekaligus keren. Suatu hari nanti, kita bisa melihat-lihat lagi tulisan kita atau flashback. Kita juga bisa melihat pola-pola hidup kita, dan pada akhirnya bisa lebih mengenali diri kita yang mungkin selama ini tidak kita sadari.


 

Cara kedua yang saya sarankan jauh lebih sederhana. Bisa dilakukan sebelum kita tidur. Sebelum tidur, coba deh kita ajukan 3 pertanyaan ini ke diri kita. 

1. Apa yang saya syukuri hari ini?

2. Apa yang saya sesali hari ini

3. Besok, saya mau jadi seperti apa?

Menurut saya, 3 pertanyaan ini akan sangat membantu diri kita untuk berkembang dari hari ke hari. Lebih baik lagi jika jawaban atas pertanyaan ini dicatat sehingga kita bisa melihatnya dari hari ke hari. 

Jadi, mari kita bersama-sama belajar dari pengalaman hidup kita, dan dengan itu, hidup kita akan diiluminasikan dengan berbagai nilai2 kehidupan yang akan berdampak baik buat diri kita sendiri dan orang lain di sekitar kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar