Kamis, 31 Desember 2020

Menjalani Pendidikan di Seminari Wacana Bhakti


 

Setelah lulus SMP di Tarki Gading Serpong, gue lanjutin SMA di Seminari Wacana Bhakti. Sekolah ini berdurasi 4 tahun dan bersistem asrama. Tahun pertama disebut KPP (Kelas Persiapan Pertama). Di tahun pertama, kami beradaptasi dengan ritme hidup asrama, sekaligus belajar pelajaran khas seminari (Kitab suci, Bahasa Latin, Liturgi, dll). Baru di tahun kedua, kami masuk kelas 10 di SMA. 

Kenapa gue masuk seminari? Ya dulu sih jiwa explore gue masih tinggi banget, mau cari sekolah yang beda. Jadi ada unsur iseng dan penasaran.  Trus suatu saat ada kakak kelas gue dating promosiin seminari, wah keren juga nih. Tapi siapa sangka, bahwa keisengan gue tersebut justru bener2 merubah hidup gue

Katanya sih, Seminari itu tempat pendidikan calon Pastor/Romo. Mungkin bisa dibilang pesantrennya Katolik kali ya. Tapi menurut gue, Seminari lebih dari itu. Seminari adalah tempat pendidikan menjadi ‘orang' dan 'manusia' yang utuh dan dewasa.

 

Dari seorang remaja yang labil, jadi seseorang yang berani ambil keputusan besar : Lanjut atau Jebling (baca :keluar). Dari seorang remaja yang males dan manja, jadi seseorang yang (agak) rajin dan mandiri. Dari seorang remaja yang gak kenal Tuhan, jadi seseorang yang sedikit lebih mengenal Tuhan dan mulai membangun kebiasaan doa. Dari seorang remaja yang ansos, jadi punya banyak teman dan sahabat yang udah serasa keluarga sendiri, karena hidup di satu atap melewati suka duka bersama selama ± 4 tahun.

Gue belajar apa di seminari dan aspek kehidupan apa aja yang berkembang?  

Gue membaginya berdasarkan 4 core values Seminari / 4S : Sanctitas (Hidup doa), Scientia (Hidup studi), Sanitas (Hidup sehat) dan Societas (hidup berkomunitas). 

1. SANCTITAS (Hidup Doa)

Di Seminari, kami dibiasakan memulai dan menutup hari dengan doa. Di pagi hari ada ibadat pagi (laudes), dilanjut misa harian. Di sore hari ada ibadat sore(Vesper)/bacaan rohani, di malam hari ada completorium, rosario, dan doa-doa lainnya. Ya walaupun kadang dijalani dengan stengah-stengah : Waktu misa ketiduran trus tiba-tiba berdiri sendiri karna kaget dan harus nanggung malu , cabut doa malem, dll ( kayaknya gak perlu dibocorin semua). 

 

 

Gue bersyukur 4 tahun di Seminari mau gak mau membentuk kebiasaan untuk berdoa (bolong-bolong juga sih). Tapi gue inget satu pepatah : When a prayer becomes a habit, miracles become your lifestyle. 

Sesuatu yang kita lakuin berulang-ulang kali, otomatis akan jadi kebiasaan. Walaupun mungkin pada awalnya susah, tapi ketika udah terbiasa, hal itu akan jauh terasa lebih mudah. Kita sebagai manusia punya kemampuan memilih. Tinggal pilih aja deh mau memperjuangkan kebiasaan baik dan mengurangi kebiasaan buruk, atau sebaliknya.

 

Uploading: 133972 of 133972 bytes uploaded.

 

2. SCIENTIA (Hidup Studi)

Nilai gue pas SD dan SMP tuh gak bagus-bagus amat. Tapi setelah masuk Seminari, puji Tuhan nilai gue jauh lebih baik dibanding pas gue SD dan SMP. Gue sadar nilai gue meningkat di SMA bukan karna faktor intelektual aja. Waktu belajar di rumah pas SD dan SMP, mungkin gue kurang bisa mengerasi diri dalam belajar. Kalau belajar pun, distraksinya banyak. Ada HP, ada cemilan, dan durasinya bisa suka-suka gue (banyak kortingnya)

 

 

Di Seminari, jam studi teratur. Sebelum makan malam ada studi 1, setelah makan sampai doa malam ada studi 2. Ditambah lagi bisa belajar dan ngerjain tugas bareng teman-teman.

Disini gue baru paham bahwa nilai bagus tuh gak semata-mata buat orang ber- iq tinggi. Kalo kita punya kebiasaan studi yang baik, bisa manajemen waktu, mau mengerasi diri buat belajar dengan kerja keras, nilai yang bagus pasti akan ngikutin. Gue jadi meyakini kebenaran omongan wali kelas gue pas SD “orang pinter itu bisa kalah dengan orang bodoh yang rajin belajar dan bekerja keras”

 

3. SANITAS (Hidup Sehat)

Di seminari gue juga diajak untuk peduli dengan kesehatan diri sendiri. Mengatur pola makan, olahraga, menjaga kebersihan, hingga merawat teman yang sakit. Semua ini harus kita urusin sendiri dan menguji kemandirian kita sebagai pribadi. Berbeda dengan diri gue waktu dirumah.Hidup gue dirumah bisa dibilang cukup nyaman. Baju dicuciin, piring dicuciin, rumah dan kamar ada yang bersihin, dsb. Di Seminari, gue harus melakukan semua hal itu sendiri. Cuci baju, handuk, seragam ,piring, nyapu, ngepel, nyikat wc, hingga piket buang sampah seminggu sekali. Setiap jam 15.30, ada yang namanya opera yaitu kegiatan bersih-bersih selama 30 menit. Males? Udah pasti. Cabut? Lumayan sering, hehe. Hingga buru-buru selesai opera demi kebagian tim buat main basket. 

Walaupun malesin, opera ternyata menumbuhkan sense of belonging, kepekaan, dan kepedulian pada lingkungan tempat kami tinggal. Gue tinggal di WB, berarti gue harus bertanggung jawab atas kebersihan WB dong?? Kalo cuma numpang tinggal, itu namanya kos-kosan dong?

Kepedulian semacam ini kurang tumbuh saat gue tinggal di rumah sebelum masuk WB, karena semuanya udah ada yang ngerjain dan gue tinggal terima beres. Hidup di asrama juga membuat gue lebih menghargai sosok pembantu rumah tangga, khususnya mbak yang kerja di rumah gue. Ketika ngerasain gimana capeknya nyapu, ngepel, cuci baju, dst, gue baru menyadari bahwa kerjaan pembantu gue di rumah itu lumayan berat. Hal ini juga membuat gue jadi lebih menghargai orang-orang sederhana lainnya, seperti cleaning service dan waiter.

4. SOCIETAS (Hidup Berkomunitas)

Hidup dan tinggal di sebuah komunitas laki-laki dengan jumlah yang lumayan banyak (72 s/d 120-an orang) itu cukup menantang. Kami berasal dari latar belakang keluarga, sekolah, tempat tinggal, dan kepribadian yang berbeda-beda. Sleg, ketidakcocokan, perbedaan pendapat adalah hal yang biasa.

Pada Bulan Desember 2014, kami mengadakan retret angkatan untuk yang pertama kali. Ada satu sesi dimana kami melakukan correctio fraterna. Jadi, kami duduk membentuk stengah lingkaran. Masing-masing orang maju ketengah, dan sisanya secara berurutan memberikan deskripsi, kelebihan, kekesalan, uneg-uneg hingga masukan untuk orang yang ditengah itu secara terbuka.

Kegiatan itu cukup membantu pembangunan dinamika awal kami sebagai angkatan. Kami belajar untuk membangun pertemanan secara sehat. Gak ngomongin dari belakang atau manis didepan aja, tapi berani menegur, menanggung kerapuhan teman, dan saling membantu teman untuk berkembang.

Mengadaptasi kutipan John F. Kennedy, jangan bertanya apa yang udah kita dapatkan dari teman/komunitas/keluarga kita, tapi tanyalah apa yang udah bisa kita berikan untuk mereka. Sulit sih, jadi mari berjuang bersama untuk menjadi teman, keluarga dan anggota komunitas yang baik!

 

Dari tadi cerita baik-baiknya aja, sekarang cerita sebagian sisi buruknya. Sebagai remaja/anak baru gede (abg), kami menginginkan otonomi/kebebasan dan suka memberontak. Tak jarang, kami sering melanggar peraturan dan jadi nakal. Beli nasi goreng malam2, cabut malam minggu, dll menjadi hal yang biasa. Kami ingin kebebasan. Jadi, kami melanggar peraturan. Tak jarang kenakalan kami tercium oleh para pamong (pembina) kami. Pamong yang seharusnya bertindak sebagai pendidik, pendamping dan pembina, terpaksa mengambil peran seorang satpam yang mengawasi dan polisi yang menghukum. Mereka terpaksa begitu karena kami yang selalu kucing-kucingan dan tingkah kami yang nakal.



Saat gue masih seminaris dulu, gue agak kesal dengan mereka dan menganggap kami-lah yang benar."Kami juga remaja biasa yang mau menikmati masa remaja kami", begitu kami sering membela diri. Tapi setelah dipikir-pikir, ini kan pilihan gue. Kalo udah milih sekolah disini, ya gue harus taat sama peraturannya dengan segala konsekuensinya dan pengorbanannya dong? Dari sini gue belajar untuk bertanggungjawab dan totalitas dalam menjalani suatu pilihan.

Ketika melakukan pelanggaran untuk mencapai kebebasan, bukannya kebebasan yang kami dapat, tapi justru rasa was-was dan takut. Kebebasan yang sejati didapat justru ketika kami mentaati peraturan dan terbuka dengan pamong. Kata seorang pembimbing rohani gue, "Nakal itu boleh dan wajar kok, asal gak bego, tahu batasan dan gak jadi bajingan. Tapi kalo terus nakal dan kucing-kucingan, kapan jadi dewasanya?"

Ya.. gue bersyukur pernah nakal dan sekarang bisa mengambil hikmahnya. Kami minta maaf dan mengucapkan terima kasih untuk para pamong kami atas kesabarannya dalam mendampingi kami yang nakal-nakal ini.

 



Terima kasih telah menjadi 'house' tempat gue tidur, mandi, belajar, makan selama 4 tahun gue menjalani pendidikan SMA. Terima kasih juga telah menjadi 'home', tempat gue membangun persahabatan dan memperoleh nilai-nilai dan bekal untuk hidup gue selanjutnya.

Semoga kami benar-benar bisa menjadi masa depan gereja (dan negara), sebagai gembala setia dan pemimpin sejati, sesuai dengan panggilan kami masing-masing.

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar