Setelah lulus SMP di Tarki Gading Serpong, gue
lanjutin SMA di Seminari Wacana Bhakti. Sekolah ini berdurasi 4 tahun dan
bersistem asrama. Tahun pertama disebut KPP (Kelas Persiapan Pertama). Di tahun
pertama, kami beradaptasi dengan ritme hidup asrama, sekaligus belajar
pelajaran khas seminari (Kitab suci, Bahasa Latin, Liturgi, dll). Baru di tahun
kedua, kami masuk kelas 10 di SMA.
Kenapa gue masuk seminari? Ya dulu sih jiwa explore
gue masih tinggi banget, mau cari sekolah yang beda. Jadi ada unsur iseng dan
penasaran. Trus suatu saat ada kakak kelas gue dating promosiin
seminari, wah keren juga nih. Tapi siapa sangka, bahwa keisengan gue tersebut
justru bener2 merubah hidup gue
Katanya sih, Seminari itu tempat pendidikan calon
Pastor/Romo. Mungkin bisa dibilang pesantrennya Katolik kali ya. Tapi menurut
gue, Seminari lebih dari itu. Seminari adalah tempat pendidikan menjadi ‘orang'
dan 'manusia' yang utuh dan dewasa.
Dari seorang remaja yang labil, jadi
seseorang yang berani ambil keputusan besar : Lanjut atau Jebling (baca
:keluar). Dari seorang remaja yang males dan manja, jadi seseorang
yang (agak) rajin dan mandiri. Dari seorang remaja yang gak kenal
Tuhan, jadi seseorang yang sedikit lebih mengenal Tuhan dan mulai membangun
kebiasaan doa. Dari seorang remaja yang ansos, jadi punya banyak teman dan
sahabat yang udah serasa keluarga sendiri, karena hidup di satu atap melewati
suka duka bersama selama ± 4 tahun.
Gue belajar apa di seminari dan aspek kehidupan apa
aja yang berkembang?
Gue membaginya berdasarkan 4 core values Seminari / 4S
: Sanctitas (Hidup doa), Scientia (Hidup studi), Sanitas (Hidup sehat) dan
Societas (hidup berkomunitas).
1. SANCTITAS (Hidup Doa)
Di Seminari, kami dibiasakan
memulai dan menutup hari dengan doa. Di pagi hari ada ibadat pagi (laudes),
dilanjut misa harian. Di sore hari ada ibadat sore(Vesper)/bacaan rohani, di malam
hari ada completorium, rosario, dan doa-doa lainnya. Ya walaupun kadang
dijalani dengan stengah-stengah : Waktu misa ketiduran trus tiba-tiba berdiri
sendiri karna kaget dan harus nanggung malu , cabut doa malem, dll ( kayaknya
gak perlu dibocorin semua).
Gue bersyukur 4 tahun di Seminari
mau gak mau membentuk kebiasaan untuk berdoa (bolong-bolong juga sih). Tapi gue
inget satu pepatah : When a prayer becomes a habit, miracles become
your lifestyle.
Sesuatu yang kita lakuin
berulang-ulang kali, otomatis akan jadi kebiasaan. Walaupun mungkin pada
awalnya susah, tapi ketika udah terbiasa, hal itu akan jauh terasa lebih mudah.
Kita sebagai manusia punya kemampuan memilih. Tinggal pilih aja deh mau
memperjuangkan kebiasaan baik dan mengurangi kebiasaan buruk, atau sebaliknya.

2. SCIENTIA (Hidup Studi)
Nilai gue pas SD dan SMP tuh gak bagus-bagus amat.
Tapi setelah masuk Seminari, puji Tuhan nilai gue jauh lebih baik dibanding pas
gue SD dan SMP. Gue sadar nilai gue meningkat di SMA bukan karna faktor
intelektual aja. Waktu belajar di rumah pas SD dan SMP, mungkin gue kurang bisa
mengerasi diri dalam belajar. Kalau belajar pun, distraksinya banyak. Ada HP,
ada cemilan, dan durasinya bisa suka-suka gue (banyak kortingnya)
Di Seminari, jam studi teratur. Sebelum makan malam
ada studi 1, setelah makan sampai doa malam ada studi 2. Ditambah lagi bisa
belajar dan ngerjain tugas bareng teman-teman.
Disini gue baru paham bahwa nilai bagus tuh gak
semata-mata buat orang ber- iq tinggi. Kalo kita punya kebiasaan studi yang
baik, bisa manajemen waktu, mau mengerasi diri buat belajar dengan kerja keras,
nilai yang bagus pasti akan ngikutin. Gue jadi meyakini kebenaran omongan wali
kelas gue pas SD “orang pinter itu bisa kalah dengan orang bodoh yang rajin
belajar dan bekerja keras”
3. SANITAS (Hidup Sehat)
Di seminari gue juga diajak untuk peduli dengan
kesehatan diri sendiri. Mengatur pola makan, olahraga, menjaga kebersihan,
hingga merawat teman yang sakit. Semua ini harus kita urusin sendiri dan
menguji kemandirian kita sebagai pribadi. Berbeda dengan diri gue waktu
dirumah.Hidup gue dirumah bisa dibilang cukup nyaman. Baju dicuciin, piring
dicuciin, rumah dan kamar ada yang bersihin, dsb. Di Seminari, gue harus
melakukan semua hal itu sendiri. Cuci baju, handuk, seragam ,piring, nyapu,
ngepel, nyikat wc, hingga piket buang sampah seminggu sekali. Setiap jam 15.30,
ada yang namanya opera yaitu kegiatan bersih-bersih selama 30 menit. Males?
Udah pasti. Cabut? Lumayan sering, hehe. Hingga buru-buru selesai opera demi
kebagian tim buat main basket.
Walaupun malesin, opera ternyata menumbuhkan sense
of belonging, kepekaan, dan kepedulian pada lingkungan tempat kami tinggal.
Gue tinggal di WB, berarti gue harus bertanggung jawab atas kebersihan WB
dong?? Kalo cuma numpang tinggal, itu namanya kos-kosan dong?
Kepedulian semacam ini kurang tumbuh saat gue tinggal
di rumah sebelum masuk WB, karena semuanya udah ada yang ngerjain dan gue
tinggal terima beres. Hidup di asrama juga membuat gue lebih menghargai sosok
pembantu rumah tangga, khususnya mbak yang kerja di rumah gue. Ketika ngerasain
gimana capeknya nyapu, ngepel, cuci baju, dst, gue baru menyadari bahwa kerjaan
pembantu gue di rumah itu lumayan berat. Hal ini juga membuat gue jadi lebih
menghargai orang-orang sederhana lainnya, seperti cleaning
service dan waiter.
4. SOCIETAS (Hidup Berkomunitas)
Hidup dan tinggal di sebuah
komunitas laki-laki dengan jumlah yang lumayan banyak (72 s/d 120-an orang) itu
cukup menantang. Kami berasal dari latar belakang keluarga, sekolah, tempat
tinggal, dan kepribadian yang berbeda-beda. Sleg, ketidakcocokan, perbedaan
pendapat adalah hal yang biasa.
Pada Bulan Desember 2014, kami mengadakan retret
angkatan untuk yang pertama kali. Ada satu sesi dimana kami melakukan correctio
fraterna. Jadi, kami duduk membentuk stengah lingkaran. Masing-masing orang
maju ketengah, dan sisanya secara berurutan memberikan deskripsi, kelebihan,
kekesalan, uneg-uneg hingga masukan untuk orang yang ditengah
itu secara terbuka.
Kegiatan itu cukup membantu
pembangunan dinamika awal kami sebagai angkatan. Kami belajar untuk membangun
pertemanan secara sehat. Gak ngomongin dari belakang atau manis didepan aja,
tapi berani menegur, menanggung kerapuhan teman, dan saling membantu teman
untuk berkembang.
Mengadaptasi kutipan John F.
Kennedy, jangan bertanya apa yang udah kita dapatkan dari
teman/komunitas/keluarga kita, tapi tanyalah apa yang udah bisa kita berikan
untuk mereka. Sulit sih, jadi mari berjuang bersama untuk menjadi teman,
keluarga dan anggota komunitas yang baik!
Dari tadi cerita baik-baiknya aja, sekarang cerita
sebagian sisi buruknya. Sebagai remaja/anak baru gede (abg), kami menginginkan
otonomi/kebebasan dan suka memberontak. Tak jarang, kami sering melanggar
peraturan dan jadi nakal. Beli nasi goreng malam2, cabut malam minggu, dll
menjadi hal yang biasa. Kami ingin kebebasan. Jadi, kami melanggar peraturan.
Tak jarang kenakalan kami tercium oleh para pamong (pembina) kami. Pamong yang
seharusnya bertindak sebagai pendidik, pendamping dan pembina, terpaksa
mengambil peran seorang satpam yang mengawasi dan polisi yang menghukum. Mereka
terpaksa begitu karena kami yang selalu kucing-kucingan dan tingkah kami yang
nakal.
Saat gue masih seminaris dulu, gue agak kesal dengan
mereka dan menganggap kami-lah yang benar."Kami juga remaja biasa
yang mau menikmati masa remaja kami", begitu kami sering membela diri.
Tapi setelah dipikir-pikir, ini kan pilihan gue. Kalo udah milih sekolah
disini, ya gue harus taat sama peraturannya dengan segala konsekuensinya dan
pengorbanannya dong? Dari sini gue belajar untuk bertanggungjawab dan totalitas
dalam menjalani suatu pilihan.
Ketika melakukan pelanggaran untuk mencapai kebebasan,
bukannya kebebasan yang kami dapat, tapi justru rasa was-was dan takut.
Kebebasan yang sejati didapat justru ketika kami mentaati peraturan dan terbuka
dengan pamong. Kata seorang pembimbing rohani gue, "Nakal itu boleh dan
wajar kok, asal gak bego, tahu batasan dan gak jadi bajingan. Tapi kalo terus
nakal dan kucing-kucingan, kapan jadi dewasanya?"
Ya.. gue bersyukur pernah nakal dan sekarang bisa
mengambil hikmahnya. Kami minta maaf dan mengucapkan terima kasih untuk para
pamong kami atas kesabarannya dalam mendampingi kami yang nakal-nakal ini.
Terima kasih telah menjadi 'house' tempat gue
tidur, mandi, belajar, makan selama 4 tahun gue menjalani pendidikan SMA.
Terima kasih juga telah menjadi 'home', tempat gue membangun persahabatan dan
memperoleh nilai-nilai dan bekal untuk hidup gue selanjutnya.
Semoga kami benar-benar bisa menjadi masa depan gereja (dan
negara), sebagai gembala setia dan pemimpin sejati, sesuai dengan panggilan
kami masing-masing.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar