Setiap orang mendambakan hidup yang nyaman, sukses, bahagia, kaya, pokoknya yang serba enak. Tapi apakah kenyataannya seperti itu? TIDAK!
Hidup ini harus melewati sakitnya terjatuh, beratnya untuk
bangun kembali, penderitaan, ketakutan, rasa malu, dan berbagai hal yang tidak
kita inginkan.
Apakah sekolah SD hingga SMA mengajarkan kita bagaimana
bersikap menghadapi ketakutan? Bagaimana caranya berkomunikasi dengan baik? Apa
arti cinta dan persahabatan? Saya merasa hal-hal itu tidak begitu ditekankan
selama sekolah. Sekolah lebih mementingkan kita untuk mendapatkan nilai bagus di matematika daripada budi pekerti.
Lalu, siapa yang mengajarkan kita mengenai kehidupan?
Tentu, sekolah, keluarga, teman, sahabat pasti mengajarkan
banyak kepada kita soal kehidupan. Namun guru utama itu ialah DIRI KITA SENDIRI.
Ya, pengalaman adalah ibu segala pengetahuan.
Melalui pengalaman jatuh, kita belajar bagaimana caranya
untuk bangun. Melalui pengalaman menderita, kita belajar bagaimana caranya
untuk berdaya tahan. Begitu seterusnya.
Masalahnya adalah, kerapkali kita tidak menyadari bahwa suatu pengalaman ternyata sedang mengajarkan kita sesuatu. Pikiran kita tertutup dengan emosi akibat peristiwa tersebut, kita tidak mau meluangkan waktu untuk berefleksi dan merenungkan suatu peristiwa. Padahal, setiap peristiwa dalam hidup kita adalah Coach, Mentor, dan Guru terbaik.
Ada apa di Blog ini?
Saya senang dan rutin menulis berbagai pengalaman yang telah
saya lalui supaya saya bisa belajar darinya. Itulah yang menjadi tujuan saya
menulis blog ini. Untuk membagikan berbagai pengalaman saya, sehingga bukan
saya saja yang belajar, tapi orang lain pun bisa ikut belajar tentang kehidupan
dari pengalaman hidup saya.
Di Blog ini, saya juga akan membagikan pemikiran, opini, dan essay tentang berbagai dimensi kehidupan. Mulai dari buku-buku yang
telah saya baca, tugas-tugas kuliah, pengalaman hidup saya tentang persahabatan, jatuh cinta, mengambil
keputusan, relasi dengan Tuhan, pendidikan, masalah politik dan hubungan
internasional, hingga spiritualitas Ignasian yang saya pelajari selama 2 tahun di Girisonta, Semarang.
Siapa sih penulis Blog ini?
Nama saya Nicholas Dennis Kurnia, biasa dipanggil Dennis. Sekarang, saya sedang menempuh pendidikan sarjana Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Sekolah saya di setiap tahap berbeda-beda. TK dan SD di Kota Tangerang, SMP di Gading Serpong, SMA pindah ke sebuah asrama di Jakarta dengan Pendidikan 4 tahun. Selepas SMA, mencoba menjawab rasa penasaran saya dengan menjadi Yesuit di Semarang selama 2 tahun. Dan di usia 21, saya baru akan memulai perkuliahan sebagai mahasiswa baru. Perjalanan hidup saya cukup banyak nyasarnya, belok kesana kemari, jalannya kadang berbatu dan becek pula. Capek sih, tapi itu yang membuat hidup ini seru dan menarik, walaupun berat dan penuh rintangan.
Apakah saya menyesal? Tentu saja tidak. Pengalaman nyasar
dan berbelok itulah yang mengajarkan saya banyak tentang kehidupan. Saya sudah
memiliki banyak bekal hidup yang saya yakini akan berguna di masa depan saya.
Kata seorang spiritual, timeline orang itu berbeda-beda. Kata seorang
psikolog, pertumbuhan dan kedewasaan orang itu berbeda-beda. Saya ingin mensyukuri
hidup saya, dengan membagikan pengalaman jatuh, bangun dan bertumbuhnya diri
saya hingga saat ini.
Jargon Yesuit yang paling terkenal antara lain Ad Maiorem
Dei Gloriam (demi semakin besarnya kemuliaan Allah) dan Man for others. Saya kira, itu yang sekarang menjadi goal dan
tujuan hidup saya. Bukan lagi untuk kemuliaan dan pemenuhan diri sendiri, tapi
untuk kemuliaan Allah dan keselamatan sesama.
Semoga tulisan-tulisan saya di
blog ini dapat membantu anda semua dalam menjalani berbagai dimensi kehidupan,
dan syukur-syukur, dengan itu nama Tuhan dapat semakin dimuliakan. AMDG!
